ketulusan

Judul diatas sepintas menyeramkan karena di benak kita istilah ‘2 dunia’ identik dengan dunia kita (manusia) dan dunia ghaib ( jin, setan dan semacamnya). Namun yang ingin saya angkat disini adalah soal ketulusan yang pernah kita alami di dunia nyata dan ketulusan yang ter-aplikasi dalam dunia TV.

Ketulusan yang berasal dari kata ‘tulus’ bisa diartikan sebagai sikap jujur, tidak berpura-pura, sungguh dan benar-benar dari hati.

Ketulusan mungkin sangat jarang kita temukan pada era modern saat ini. Dengan adanya arus globalisasi kita dituntut untuk siap bersaing dengan yang lain. Betapapun sulitnya, ternyata masih dapat saya temukan nilai-nilai ketulusan dalam kehidupan saat ini. Terlebih-lebih kali ini saya akan menceritakan pengalaman pribadi tentang ketulusan dari orang-orang disekitar kita.

Penjaga Tambangan Itu…

Kupukul kentongan sebagai isyarat untuk memanggil penjaga ‘tambangan’. Posisi tambangan saat itu berada di seberang sungai. Saat tambangan mulai bergerak menuju arahku, mataku tiba2 merasa aneh saat melihat kearah sungai. Ternyata dermaga tempat tambangan tertambat hilang terbawa arus sungai.

“Njenengan mriku mawon gus, kulo dandani riyen seseke (kamu disitu saja, biar saya perbaiki dulu dermaganya)”. Sejurus kemudian bapak penjaga ‘tambangan’ menceburkan dirinya kedalam sungai guna memperbaiki dermaga yang rusak. Sekitar sepuluh menit dermaga selesai diperbaiki. “Monggo gus!”, ujarnya mempersilahkanku menaiki ‘tambangan’.

Sesampai diseberang sungai bapak penjaga ‘tambangan’ menambatkan tali ke dermaga. Aku keluarkan uang pecahan Rp.5000. “niki wangsule gus (ini kembaliannya mas)” ujarnya seraya memberiku Rp.4000 sebagai kembalian dari ongkos penyebrangan. “gak usah pak, kembaliannya buat bapak aja” ujarku. “Ah, mboten gus, lha wong ancen ongkose setunggal ewu kok (ah, tidak mas, emang ongkosnya Rp1000, kok)”.

Ketulusan. Kata yang tepat untuk disematkan pada bapak penjaga tambangan ini. Walau harus bersusah payah basah kuyup memperbaiki dermaga yang hanyut terbawa arus sungai, beliau tetap menarik ongkos seperti biasanya. Ternyata masih ada orang yang lebih mengedepankan nilai ketulusan daripada mengambil keuntungan berlebih meskipun aku ikhlas memberi lebih ongkos penyebrangan.

Belajar Dari Spongebob

spongebob-squarepants-and-the-gang

Pembaca yang budiman. Pasti kebanyakan dari anda sudah tidak asing lagi dengan tokoh kartun yang satu ini. Selain kaena karakternya yang lucu, ternyata banyak nilai-nilai ketulusan yang dapat kita ambil dari tokoh kartun yang satu ini.

Perkenankan saya memperkenalkan dulu tokoh-tokoh kunci di dalam tayangan tersebut:

1. Spongebob: Sebuah spons berbentuk kotak yang hidup di dasar laut. Dia adalah sosok yang polos, sangat periang, rajin, tulus, tak punya prasangka buruk, dan menganggap seluruh Bikini Bottom merupakan arena permainan. Permainan favoritnya adalah bermain gelembung dan menangkap ubur-ubur. Dia menjadi juru masak di Restoran Crusty Crab yang menjual makanan cepat saji Craby Patty. Sebagai karyawan di restoran milik Mr Crab itu, Spongebob selalu jujur dan menjalankan tugas dengan penuh dedikasi.

2. Patrick: Sahabat karib Spongebob ini adalah bintang laut. Dia sangat bodoh, namun sahabat yang setia, baik hati dan suka menolong.

3. Squidward: Gurita yang culas, sok elite dan menganggap orang-orang se-Bikini Bottom nggak level berteman dengannya. Mukanya jutek. Dia suka main klarinet tapi fals, mengaku suka musik jazz dan penikmat seni tingkat tinggi lainnya. Tapi karyanya selalu gagal merebut simpati kurator. Dia sendiri juga selalu gagal membuat orang terkesan.

Selain ketiga tokoh kunci di atas, masih ada Mr Crab yang mata duitan, Sandy si tupai sahabat Spongebob yang menguasai ilmu pengetahuan, Plankton yang jahat dan munafik serta sejumlah tokoh figuran lainnya. Walau tidak terlalu penting namun keberadaan tokoh-tokoh ini turut mewarnai dan mempertajam dinamika kehidupan sosial di Bikini Botton, sekaligus membentuk karakter ketiga tokoh kunci tersebut.

Dalam situasi kehidupan yang semakin hipokrit (Tak sungguh-sungguh, munafik, inkonsisten,), penonton membutuhkan tayangan yang menanamkan nilai-nilai kebaikan. Di tengah gencarnya sinetron yang asal kejar tayang dengan melupakan pentingnya mutu tayangan dan visi-misi di samping mengejar rating, Spongebob Squarepants seakan menjadi oase. Tayangan ini menanamkan nilai-nilai kejujuran, kesetiaan dan ketulusan melalui adegan-adegan maupun dialognya.

Dari cerita yang menampilkan tokoh-tokoh dalam tayangan kartun itu, saya kira kita bisa menarik hikmah, bahwa kepintaran dan status sosial tak lebih penting dari kejujuran dan ketulusan. Hidup Spongebob dan Patrik selalu berlimpah kebahagiaan dan keceriaan karena mereka tidak rumit dalam memandang hidup.

Walaupun Squidward selalu menganggap Spongebob dan Patrik tidak selevel dengannya, namun Spongebob dan Patrik tidak pernah dendam. Bahkan keduanya selalu berusaha mengajak Squidward ikut bersenang-senang dengan cara mereka, yang bagi Squidward aneh. Simak saja dalam episode “Jelly Fishing”. Squidward melecehkan kelakuan Spongebob dan Patrick yang dinilainya aneh dan rendahan. Namun di akhir episode, ternyata dia sendiri ingin ikut bermain menangkap ubur-ubur.

Suatu ketika, Spongebob belajar seni patung pada Squidward yang dinilainya sudar ahli. Squidward menjejali dan bahkan mencuci otak Spongebob bahwa dia bodoh dan karyanya bernilai rendah hingga Spongebob putus asa. Namun ternyata ketika seorang kurator datang ke tempat Squidward, ternyata justru dia terkesan dengan karya Spongebob.

Di tengah penilaian masyarakat umum yang serba terbalik, mari kita becermin dan mentertawakan diri sendiri, karena adegan dalam tayangan Spongebob tak jarang merupakan representasi dari masyarakat kabanyakan. Dan di antara tawa canda Spongebob-Patrick , selalu saja ada hal-hal manis yang menyentuh sanubari orang normal. Siapa sih yang nggak tersentuh mendengar dialog ini:

Spongebob: “What do you usually do when I’m gone?”
Patrick: “Wait for you to come back.”

Ketulusan Menurut Islam

Islam sangat mengedepankan arti ketulusan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam islam, ketulusan juga dapat diartikan ikhlas. Bahkan mayoritas ulama sepakat bahwa tanpa keikhlasan, ibadah apapun takkan bernilai apa-apa.

Nabi Muhammad SAW sendiri mengajak para sahabat-sanabatnya untuk selalu memperbaiki dan memperkuat keimanan. Salah seorang sanabat bertanya “bagaimana caranya untuk memperbarui iman kami?” . Kemudian Nabi menjawab “perbanyaklah dengan ikhlas anda mengucapkan, Tidak ada Robb yang haq kecuali Allah “. Mudah-mudahan pada kesempatan yang penuh rahmat ini Allah senantiasa mencurahkan fadhilah Dan maghfiroh-Nya kepada kita, serta mudah-mudahan kita mampu membangun ketulusan dan keikhlasan dalam melakukan ibadah, sehingga ibadah yang kita laksanakan tidak hanya bermakna bagi kehidupan kita, tetapi juga kita harapkan ibadah ini diterima Allah SWT.

Untuk membangun ketulusan dan keikhlasan dapat kita mulai dengan melakukan sikap pro aktif. Marilah kita lihat segala yang ada ini dengan pandangan yang netral dan pandangan yang baik, semua ini pada hakekatnya, beramal dan kembali pada titik nol. Kalau kita sudan bisa membawa perasaan, pikiran, persepsi dan paradigma kita untuk melihat semua yang ada termasuk kita ini pada titik nol, maka yang lahir dalam jiwa kita adalan “Ma’rifatullah“, dimana kita telah menyakini adanya Allan Maha Kuasa seraya kita berucap dengan sadar, bahwa semua yang ada ini berasal dari Allah, diatur oleh Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah, itulah inti dari Tauhid. Kesadaran seseorang untuk menjadikan segala sesuatu, mengembalikan segala sesuatu kembali kepada titik pusat yang paling besar, semuanya itu karena Allah SWT. Untuk itulah mari kita saling mengingatkan kepada diri kita sendiri sekalian pentingnya kita untuk senantiasa membangun keikhlasan dalam diri kita, dimana keikhlasan ini apabila kita dapat memilikinya niscaya hidup ini menjadi indah dan damai, apa saja yang kita hadapi sekalipun itu musibab dan bencana, karena yang akan kita lihat bukan yang tampak dari musibab itu sendiri, akan tetapi apa dibalik musibah itu sehingga musibah itu justru melahirkan sikap ridho dan sabar.

Pertanyaannya, sudah seberapa tuluskah kita? Kita sendiri yang mampu menjawabnya. WALLAHU A’LAM.

Iklan