Tag Archive: pesantren


Buang air besar (qodhoul hajjah) adalah ungkapan untuk sebuah keadaan yang tak pantas (buruk) diperbincangkan dalam forum terhormat. Namun siapa sangka, bahwa B.A.B mempunyai hikmah yang berkaitan erat dengan konsep terbaik dalam bersedekah.

Dalam kenyataannya kebanyakan dari kita termasuk saya belum  mengerti hikmah yang terkandung dalam B.A.B. sampai saya mendengar penjelasan dari guru saya di pesantren. Setidaknya ada dua poin yang dapat saya simpulkan dari keterangan guru saya;

1. Tidak membahas/membicarakannya pada orang lain.

Sudah umum bagi kita bahwa membicarakan/menceritakan B.A.B. pada orang lain adalah hal yang ‘tabu’ atau tidak pantas. Ambil contoh, ketika kita memohon izin pada guru untuk memenuhi hajat (B.A.B) kita akan mengatakan, “maaf pak! saya izin ingin ke ‘belakang’“. Kata belakang merupakan pengganti dari kata (maaf) berak/BAB. Kenapa harus mengganti kata berak menjadi ke belakang? Alasannya jelas, yakni Read More…

Iklan


Semakin disadari, tantangan dunia islam khususnya dunia pesantren semakin besar dan berat di masa kini dan mendatang. Paradigma “Mempertahankan warisan lama yang masih relevan dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik” benar-benar penting untuk ditinjau ulang.

Mengapa demikian? Pertama, dunia pesantren tidak bisa hanya mempertahahnkan tradisi lama belaka terus menerus. Sebab, tradisi lama tak mesti selalu bisa relevan dengan masa kini. Perlu kita acungkan dua jempol untuk para pemikir islam, karena pada “masa kejayaannya” telah berhasil menggurat tinta emas di pelbagai bidang pemikiran.

Namun generasi sekarang (terutama insan pesantren) tak bisa terus menerus selalu bermakmum pada mereka. Para pemikir itu, adalah anak zaman yang mengerahkan segenap daya ciptanya guna mencerahi zaman mereka. masih relevankah pencerahan mereka jika kita hubungkan dengan kekinian kita? Pertanyaan ini tak bisa dijawab seenaknya saja.

Kedua, hal yang tak kalah penting untuk direnungkan dalam “mengambila hal terbaru yang lebih baik” adalah dengan merangkai secara cerdas problem kekinian kita dengan pendekatan-pendekatan kontemporer.

Tak bisa ditepis bahwa modernitas telah “menawarkan” kita pada banyak hal untuk dipikirkan dan direnungkan, terutama bagi insan-insan pesantren. Arek-arek Read More…