haji mubarak

Bulan Dzulhijjah merupakan bulan bersejarah bagi umat islam, karena umat islam menggunakan momen tersebut untuk menyempurnakan rukun iman yakni dengan melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji merupakan ritual keagamaan yang mengajarkan persamaan derajat umat manusia. Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak membeda-bedakan umat manusia dari segala status sosial, warna kulit dan ras bangsa. Semuia melaksanakan ibdah yang sama dengan pakaian yang sama pula.

Secara sosial haji merupakan simbol kolaborasi tertinggi yaitu pertemuan pada skala tertinggi dimana umat Islam sedunia melaksanakan langkah yang sama dengan landasan prinsip yang sama pula.

IDUL ADHA

Selain ibadah haji, pada bulan ini islam juga merayakan salah satu hari bersejarah, idul adha. Pada hari itu umat islam dianjurkan untuk sholat sunnah dua rokaat serta menyembelih korban bagi yan mampu. Anjuran menyembelih korban tak lepas dari peristiwa dramatis yang dialami oleh dua insan mulia, Ibrahim as. dan Ismail as.

Idul Adha berasal dari kata ‘udlhiyyah’ yang berarti ‘hewan kurban’. Pada hari itu, umat islam dianjurkan menyembelih hewan kurban dan nantinya akan dibagikan pada kaum dlu’afa.

Idul Adha dan peristiwa kurban yang setiap tahun dirayakan umat muslim di dunia seharusnya tak lagi dimaknai sebatas proses ritual, tetapi juga diletakkan dalam konteks peneguhan nilai-nilai kemanusiaan dan spirit keadilan, sebagaimana pesan tekstual utama agama.

Kurban Sebagai Puncak Kepatuhan.

kurban puncak kepatuhan
Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.

Kisah Nabi Ibrahim as. memberikan kesan mendalam bagi kita. Bagaimana tidak, saat si buah hati, Ismail belum beranjak dewasa, Ibrahim yang telah bertahun-tahun menanti kelahirannya diuji oleh Allah untuk menyembelih anaknya sendiri. Ibrahim dihadapkan pada dua pilihan antara mentaati perintah Tuhannya atau mempertahankan si buah hatinya. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba.

Sementara itu, Ismail juga dihadapkan pada sebuah dilema antara mentaati perintah Allah dengan menyerahkan nyawanya atau menolak perintah Tuhannya karena tak ingin berpisah dengan orang tua tercinta. Namun, dengan penuh ketaatan Ismail bersedia untuk disembelih guna membuktikan rasa takwanya kepada Allah.

Kisah tersebut merupakan contoh puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Begitu pula Ismail mencintai Allah melebihi nyawanya sendiri. Model ketakwaan dua insan manusia ini patut untuk kita teladani dalam rangka mengembalikan jati diri bangsa ini yang masih terpuruk.

Akhir-akhir ini kita masih sering dihadapkan denga masalah korupsi dan semisalnya masih merajalela di bangsa kita. Demi mencapai tujuannya, para KORUPTOR rela melepas ‘jubah’ ketakwaan guna menumpuk kekayaan. Mereka bahkan berani mendobrak ‘pagar larangan’ guna mendapatkan apa yang mereka cari. Dengan Idul Adha kita diingatkan kembali tentang potret kepatuhan yang diperankan oleh dua insan mulia, Ibrahim dan Ismail. PERCAYALAH! Dengan selalu memegang teguh perintah Allah, kita akan selalu berada dalam naungan rahmat-NYA. Sebagaimana penyembelihan Ismail yang digantikan denga domba dari surga.

Kurban Sebagai Bentuk Solidaritas.

pembagian daging kurban
Di hari Idul Adha, bagi umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai yakni nilai ritual dan nilai sosial. Bernilai ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan. Kurban dikatakan mempunyai nilai sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi solidaritas kemanusiaan.

Bentuk solidaritas kemanusiaan ini teraplikasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.

Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha.

Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua nilai sekaligus yakni nilai ritual dan nilai sosial.

Kurban Sebagai Bentuk Nilai Penting Sebuah Nyawa.

terorisme
Ada pelajaran berharga lain yang bisa dipetik dari kisah tersebut diatas. Sebagaimana kita ketahui bahwa perintah menyembelih Nabi Ismail ini pada akhirnya digantikan seekor domba. Pesan tersirat dari adegan ini adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia.

Nabi Ismail rela mengorbankan dirinya tak lain hanyalah demi mentaati perintahNya. Berbeda dengan para teroris dan pelaku bom bunuh diri. Apakah pengorbanan yang mereka lakukan benar-benar memenuhi perintah Tuhan demi kejayaan Islam atau justru sebaliknya?.

Para teroris dan pelaku bom bunuh diri jelas tidak sesuai dengan nilai universal Islam. Islam menjaga hak untuk hidup, sementara mereka—dengan aksi bom bunuh diri— justru mencelakakan dirinya sendiri. Di samping itu, mereka juga membunuh rakyat sipil tak bersalah, banyak korban tak berdosa berjatuhan. Lebih parah lagi, mereka bukan membuat Islam berwibawa di mata dunia, melainkan menjadikan Islam sebagai agama yang menakutkan, agama pedang dan sarang kekerasan. Akibat aksi nekat mereka ini justru menjadikan Islam laksana ”raksasa” kanibal yang haus darah manusia.

Imam Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin pernah menjelaskan tentang tata cara melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Menurutnya, tindakan dalam bentuk aksi pengrusakan, penghancuran tempat kemaksiatan adalah wewenang negara atau badan yang mendapatkan legalitas negara. Tindakan yang dilakukan Islam garis keras dalam hal ini jelas tidak prosedural. (vol.2 hlm.311)

Sudah semestinya dalam melakukan amar makruf nahi munkar tidak sampai menimbulkan kemunkaran yang lebih besar. Bukankah tindakan para teroris dan pelaku bom bunuh diri ini justru merugikan terhadap Islam itu sendiri ?. Merusak citra Islam yang semestinya mengajarkan kedamaian dan rahmatan lil ’alamin. Ajaran Islam yang bersifat humanis, memahami pluralitas dan menghargai kemajemukan semakin tak bermakna.

Semoga dengan peristiwa eksekusi mati Amrozi cs, mati pula radikalisme Islam, terkubur pula Islam yang berwajah seram. Pengorbanan Nabi Ismail yang begitu tulus menjalankan perintahNya jelas berbeda dengan pengorbanan para teroris.

Siap ‘BERKORBAN?”.
kurban