Senin malam di salah satu stasiun televisi swasta, Deddy Corbuzier memberikan petuah sebuah pelajaran hidup yang menurut saya sangat menarik untuk saya ceritakan ulang pada sahabat ruang pena.

Terkisah seorang pekerja di sebuah pabrik panggil saja namanya Andi. Andi termasuk karyawan yang ulet dan baik tutur sapanya. Seakan tak punya lelah, di waktu istirahat masih ada saja yang dia kerjakan. Bahkan pekerjaan seorang office boy yang tak seharusnya dia kerjakan dia atasi.

Namun meski bekerja dengan giat, ternyata ada sesuatu yang sering mengganggu otaknya. Yakni, sudah lama dia bekerja dengan giat namun tetap saja pangkatnya tak kunjung naik.

Konon, Andi memiliki teman curhat yang selalu mendengarkan keluh kesahnya. Teman tersebut tak lain adalah ayahnya sendiri. Dia pun bercerita perihal tak kunjung naiknya pangkat yang di pegangnya. Masih saja dia menjadi seorang buruh pekerja kotor. Setidaknya dia ingin naik pangkat menjabat sebagai seorang mandor. Wajar dia berkeinginan seperti itu melihat apa yang telah dia curahkan pada perusahaannya.

“Ayah, kenapa setelah sekian lama aku bekerja pangkatku tak kunjung naik. Padahal aku menilai bahwa aku lebih bekerja keras daripada karyawan lain” ujar Andi pada ayahnya. “Nak, setiap pekerja di perusahaan dirimu bekerja, seragam apa yang dipakai para pekerja?” Tanya ayah. “Berbaju hitam dan bertopi merah”. Jawab Andi seraya berfikir ada apa gerangan ayah bertanya seperti itu. “Esok, pakailah topi berwarna biru” ujar ayah kemudain berlalu dari hadapan Andi.

Keesokan harinya, Andi mengikuti perintah sang ayah dengan penuh kebingungan. Hari demi hari hingga sebulan kemudian, Andi dipanggil oleh direktur perusahaannya. “Selamat, saudara Andi, mulai saat ini anda menjabat sebagai mandor para pekerja”. Heran bercampur bahagia dalam diri Andi, diapun tak sabar pulang kerumah untuk memberitahukan berita bahagia ini pada sang ayah.

Sobat ruang pena. Tahukah anda kenapa Andi bisa naik pangkat. Ternyata topi biru yang disarankan oleh ayah membuat dia berbeda dari pekerja yang lain. Dengan topi itu, sang direktur yang sering meninjau kinerja dari para karyawannya, melihat Andi dengan seragam yang beda serta bekerja dengan giat. Sebenarnya dengan tanpa topi tersebut, Kinerja Andi sama giatnya dengan memakai topi tersebut. Hanya saja kali itu Andi berani tampil beda sehingga menarik perhatian dari sang direktur.

Kawan, banyak orang sukses yang berangkat dari keberanian mereka untuk tampil beda. Seperti para artis yang mempunyai kelebihan untuk tampil beda. Tergantung dari kita sejauh mana kita berani tampil beda. Namun, perlu diingat, tampil beda yang dimaksud tentunya tetap dalam koridor yang sopan dan tak menyalahi etika.

Selamat tampil beda…!!!