Melanjutkan artikel saya yang berjudul ‘Untaian Nadzom Sarat Makna’, kini saya coba membahas nuktah yang tersirat di salah satu nadzom alfiyah dalam hal ini yang terdapat dalam bab Kalam.

كلامنا لفظ مفيد كاستقم و إسم و فعل ثم حرف الكلم

Artinya: Kalam menurut ulama’ ahli nahwu adalah lafadz yang berfaidah sebagaimana lafadz istaqim

Titik berat pembahasan kita kali ini terletak pada lafadz istaqim yang juga terdapat pada firman Allah SWT. dalam surat Al-Fushshilat ayat 30:

إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزل عليهم الملائكة أن لاتخافوا ولاتحزنوا وابشروا بالجنة التي كنتم توعدون

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah”. Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka. Maka lihatlah malaikat turun kepada mereka, dengan mengatakn, “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah merasa sedih. Bergembiralah kemu dengan mendapatkan surga yang telah Allah janjikan padamu”. (QS. Al-Fushshilat : 30)

Sebelum kita membahas ungkapan dari Alfiyah, alangkah baiknya kita dahulukan untuk membahas tafsiran ayat tersebut diatas.

Syeikh Muhammad Nawawi Al-Jawy dalam kitab Tafsir Munir menjelaskan bahwa pada saat seseorang berkata, “Allah adalah tuhanku”, maka harus diikutkan dengan keyakinan yang mendalam tentang adanya kekuasaan dan wujudnya Allah SWT. Serta mengetahui dan mengerti sifat-sifatNya secara menyeluruh. Jika tidak demikian, maka dikhawatirkan tidak ada cahaya iman di dalam hatinya. Setelah itu seseorang tersebut harus beristiqomah (استقاموا ). Hal ini dapat kita artikan dengan selalu melakuakan perbuatan baik yang diridloi oleh Allah SWT.

Setelah seseorang bersaksi dan meyakini bahwa Allah adalah tuhannya , kemudian disertai dengan istiqomah, selalu dan terus menerus menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya , sampai ajal kematian menjemput. Maka Allah akan memenuhi hatinya dengan kesenangan surga yang akan dia dapatkan kelak.

Imam Ibnu Malik dengan kedalaman ilmunya telah menyinggung hal ini pada awal pembahasan ilmu nahwu pada kitab alfiyah-nya. Al-Kalam , yang dalam hal ini saya ungkapkan sebagai ucapan, adalah lafadz atau perkataan yang memberi faidah dan manfaat yang baik kepada orang lain ataupun pada si pembicara sendiri. Di sini dicontohkan dengan kata استقم , yang artinay adalah ” beristiqomahlah ” . Lafadz ini termasuk kalam ( ucapan yang benar ) karena di dalamnya terdapat faidah yang dapat kembali pada orang yang diajak bicara , karena dengan mendengar lafadz tersebut hati kecil seseorang akan terdorong untuk menunaikan suatu perbuatn yang sangat besar menfaatnya. Ataupun paling tidak faedah tersebut akan kembali pada diri kita selaku orang yang berbicara , karena dengan berkata dan memerintah demikian berarti ia harus terlebih dahulu melakukan hal tersebut.

Jadi, hindarilah omong kosong ( perkataan yang tidak ada faedahnya ). hindari bersenda gurau. Karena omong kosong dan senda gurau hanya akn menghabiskan waktu kita untuk melakukan perbuatan yang lebih berguna dan berfaedah. Dan hal itu juga dapat dapat menimbulkan kegelisahan dalam hati. Seperti sabda Rasulullah SAW, ” Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir , hendaknya ia berkata baik. Atau ( jika ia tak dapat berkata baik ) maka lebih baik ia diam saja “.