Saya terkejut sesaat membaca artikel dalam sebuah blog yang menerangkan tentang perbedaan Tuhan Hindu, Islam serta Kristen. Banyak pernyataan-pernyataan sekaligus komentar-komentar bodoh yang jika kita tak mampu menelaah lebih lanjut dapat menggoyahkan iman kita sebagai muslim sejati. Untuk membaca artikel tersebut lebih lanjut klik disini.

Setelah membaca artikel tersebut, dalam tulisan kali ini saya ingin mengedepankan tentang relasi atau hubungan antara aqidah dan ibadah. Baik aqidah dan ibadah mempunyai kaitan erat dalam manifestasi kehidupan seorang muslim. Aqidah tanpa ibadah ibarat perabot usang yang tersimpan dalam gudang tanpa guna dan faedah. Begitu pula sebaliknya, ibadah tanpa aqidah bagai seorang pemburu di hutan rimba tanpa senjata (lebih tepat bunuh diri, kaleee…)

VITALISASI NALAR DAN LOGIKA

Sebelum memasuki tahapan pelaksanaan ibadah, seorang muslim diharuskan menanamkan keyakinan (aqidah) terlebih dahulu dalam hatinya. Pendekatan`nalar dan logika perlu dilakukan agar keyakinan itu tak mudah goyah dan bahkan mengakar kuat. Bahkan orang yang imannya berdasarkan pada perilaku ikut-ikutan oleh sebagian ulama keabsahan imannya masih ditawarkan dengan argumen bahwa agama islam ditawarkan dengan nalar logika.

Bila seseorang beriman dan beragama hanya karena faktor ikut-ikutan maka tidak mustahil suatu saat akan mudah berpindah-pindah keyakinan karena terombang-ambing pada suatu situasi yang memaksanya untuk meninggalkan keyakinannya.

Jika demikian, maka kebenaran baginya menjadi bias dan kemudian tak ada bedanya baginya antara kebenaran dan kebathilan. Akhirnya hilanglah prinsip yang seharusnya dipegang erat dan menjadikan seseoran tak memiliki identitas keagamaan.

Untuk melakukan nalar yang benar dalam rangka mencari nilai-nilai kebenaran yang akan menjadi prinsip dala hatinya, seseorang perlu mengenal teologi (ilmu kalam,pen). Teologi mempunyai peranan penting untuk sarana pendekatan nalar menuju sebuah keyakinan. Keyakinan yang nanti akan menjadi pondasi kita dalam melaksanakan ibadah kepada Yang Berhak untuk disembah, yakni Allah SWT.

Meskipun ilmu kalam (teologi) belum dikenal pada zaman Nabi SAW secara khusus dalam bentuk disiplin ilmu, namun secara substantif Nabi sudah mengajarkan kepada para sahabat akan perihal ketuhanan.

Justru masalah keyakinan adalah pondasi awal dalam upaya rekontruksi pemikiran-pemikiran bangsa arab yang notabene bersifat irrasional dalam berkeyakinan (jahiliyah). Nabi lebih mengedepankan sentuhan pemikiran yang logis dan lembut serta mencerahkan pemikiran mereka dari kegelapan berfikir.

Apa yang diyakini bangsa arab saat itu adalah tindakan bodoh yang tak mendasar. penyembahan tarhadap berhala merupakan perilaku yang diluar nalar sehat. Sebagaimana maklum bahwa masing-masing suku di Arab saat itu memiliki sesembahan sesuai versi mereka masing-masing. Maka Nabi Nabi datang tidak hanya menyatukan mereka, namun sekaligus juga mengubah cara berfikir mereka dari keyakinan yang tidak berdasar itu.

Kembali pada persoalan artikel yang telah saya sebutkan diatas, semuanya kembali pada diri kita. Sudahkah kita beriman dengan menggunakan nalar dan logika yang tentunya sesuai dengan sistem teologi yang kita miliki. Sudah barang tentu semua membutuhkan keuletan dan kesabaran dalam menelusuri hakikat iman dalam hati. Mungkin dalam kesempatan lain saya akan menulis perihal metode-metode berfikir yang benar dalam menelusuri hakikat iman itu sendiri. Insya Allah.