Berawal dari keranjingan ‘ngopi’ di salah satu sudut PP. Alfalah Ploso Kediri (pondok penulis) yang acapkali memperdengarakan hentakan alunan musik yang lumayan ‘atos’ (baca:keras), mulai dari band Linkin Park, Avenged, System of Down, Muse, dan lain sebagainya muncul niat untuk mencari profil dan fakta-fakta menarik dari beberapa band diatas.

Kali ini Muse mendapat giliran pertama saya tulis (yang lain sabar yaa…!!!).

PROFIL

Muse adalah grup musik rock alternatif asal Inggris. Band ini dibentuk di Devon pada tahun 1994. Muse memiliki genre musik yang memadukan rock, rock progresif, musik klasik, dan elektronika. Muse juga dikenal dengan konser live yang memukau, bercirikan permainan yang energik dan efek visual yang mengagumkan.

Anggota band ini terdiri dari tiga orang;
1. Matthew Bellamy (vokalis, gitaris, pianis)

2. Dominic Howard (drummer)

3. Chris Wolstenholme (bassis)

Sampai saat ini, Muse telah merilis 5 buah album rekaman. Namun menurut penulis, dari kelima albumnya, yang paling ‘nendang’ adalah album ketiga dengan judul “Absolution” yang dirilis pada tahun 2003. Apalagi lagu yang berjudul “hysteria”, sungguh lagu ini yang paling banyak diminati oleh para ‘ngopi mania’.

Dalam beberapa kesempatan, Muse acapkali mendengungkan keresahan mereka yang selanjutnya mereka lampiaskan pada lagu-lagu mereka.
Perhatikanlah lirik lagu yang tertuang dalam lagu Knights of Cydonia ini: How can we win when fools can be king …— Bagaimana kita akan menang jika orang-orang tolol menjadi raja …

Selain itu…
No one’s gonna take me alive/ the time has come to make things right/ You and I must fight for our rights/ You and I must fight to survive… —Tak seorang pun akan selamatkanku/ tiba saatnya untuk menata segalanya/ kau dan aku harus perjuangkan hak/ kita harus berjuang untuk tetap hidup.”

Lalu Muse juga menyampaikan pesan-pesan revolusi dalam lirik lagunya. Menyumpahi kaum korup dengan kata-kata “… You will burn in hell—kalian akan hangus di neraka” (Take a Bow).

“Kami ingin mencari sesuatu yang positif (untuk memperbaiki situasi) meski itu berarti mencari perubahan radikal atau bahkan revolusi. Adalah ide yang baik jika kita bisa keluar dari situasi brengsek ini,” ujar Mat sanag bassis.

DIBALIK NAMA MUSE

Band ini sempat berganti-ganti nama mulai awal kemunculannya. Sempat beberapa nama mereka sandang. Antara lain, ‘Gothic Plague’, ‘Carnage Mayhem’, ‘Fixed Penalty’, dan ‘Rocket Baby Dolls’, sampai akhirnya menggunakan nama Muse yang dikenal sekarang. Urutan kronologis pergantian nama band ini tidak jelas, karena Muse memberikan informasi yang tidak konsisten pada wawancara-wawancara mereka.

Saya tertarik dengan nama ‘Muse’. Meskipun sebelumnya saya tak mengerti arti dari nama ini, namun alangkah menarik nama yang terdiri dari empat huruf ini.

Muse adalah nama indah. Bukan hanya indah, tapi juga memiliki kisah tersendiri. Perhatikanlah apa kata Plato, pemikir besar Yunani, tentang Muse;
“Yang ketiga adalah jenis kegilaan seperti yang dimiliki oleh para Muse (sembilan dewi anak Zeus dan Mnemosyne), yang mampu membawa jiwa yang halus dan murni, lalu membangunkannya dengan kegilaan puisi Bacchus yang mengagungkan hasil-hasil pencapaian masa silam dan mengajarkannya pada generasi-generasi selanjutnya. Jika seseorang tiba di gerbang puisi dan berharap menjadi seorang penyair piawai dengan memperoleh pengetahuan tinggi dalam bidang itu tanpa disertai kegilaan para Muse, dia akan gagal, dan sajak-sajaknya yang terkendalikan oleh dirinya sendiri akan terkalahkan oleh puisi yang diciptakan orang-orang yang telah terbebas dari kuasa pikiran mereka. Di situ kau akan mencapai hasil yang cemerlang dan aku bahkan bisa katakan padamu—bahwa itu disebakan oleh kegilaan yang dianugerahkan oleh dewa.”

Saya takkan membahas tentang filsafat versi plato. Saya hanya ingin mencoba mengkaitkannya pada kehidupan sehari-hari. Jika kita cermati statement plato, kita akan mengerti betapa hebatnya Muse hingga dengan kegilaannya dapat membangunkan jiwa suci mereka dan menghasilkan cipta yang mengagumkan.

Begitu hebatnyakah ‘Muse’? Kita barangkali tidak dengan mudah menafikan pendapat Plato yang dikenal dengan pemikiran-pemikirannya. Ia adalah filsuf masyur yang filosofinya sering menjadi sumber inspirasi pemikir-pemikir selanjutnya setelah ia.

Ya, jika Anda ingin “gila”, gilalah seperti Muse, yang mampu membawa jiwa yang halus dan murni, lalu membangunkannya dengan kegilaan puisi Bacchus yang mengagungkan hasil-hasil pencapaian masa silam dan mengajarkannya pada generasi-generasi selanjutnya.

Sudahkah anda “GILA”?

:dari pelbagai sumber.