Salah satu ajaran syariat Rasululllah SAW. yang sangat ditekankan ialah sholat berjama’ah. Yakni pelaksanaan sholat secara bersamaan, tidak secara individual atau terpisah belah. Hukum pelaksanaan berjamaah dalam lima sholat fardlu ialah sunnah muakkad, yakni merupakan perilaku Rasulullah yang sering beliau lakukan dan anjurkan untuk diikuti oleh umatnya. Bahkan, sebagian versi ulama menyatakan bahwa hukum pelaksanaan sholat berjama’ah adalah fardlu kifayah, artinya di setiap kampung atau daerah wajib diadakan sholat berjama’ah sebagai syiar islam, sebagai identitas islam yang menggema ke seluruh penjuru cakrawala.

Dalam kaitannya sebagai ibadah maupun dalam hubungan sosial kemasyarakatan, sholat berjamaah mempunyai manfaat yang luar biasa besar. Salah satunya ialah seperti yang disabdakan Nabi SAW. bahwa pahala sholat bejama’ah lebih utama dibanding sholat sendiri dengan selisih 27 derajat.

Shalat dengan cara berjama’ah juga lebih mudah diterima oleh Allah SWT. karena kekurangan salah satu peserta jama’ah dapat disempurnakan oleh peserta yang lain, sehingga seluruhnya dinilai sebagai sholat yang sempurna.

Rasulullah pun sempat mengibaratkan dalam sabdanya:
“Tidaklah di suatu desa atau daerah, yang tidak didirikan sholat berjama’ah di antara mereka kecuali mereka akan dikuasai dan dikalahkan oleh syaiton. Maka dirikanlah jama’ah, karena sesungguhnya harimau akan memakan domba yang terpisah jauh dari kawanannya.” (HR. Abu Dawud)

Manfaatnya dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan

Selain manfaat diatas, Shalat berjama’ah juga memiliki hikmah yang tak sedikit dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Shalat berjama’ah mengajarkan tentang bagaimana mestinya seorang muslim bergaul dan menjalin hubungan dengan sesama dalam kehidupan ini.

Hikmah dan pelajaran untuk selalu patuh pada pemimpin serta tidak melakukan pembangkangan tersirat dalam aturan sholat berjama’ah yang tidak memperkenankan seorang makmum mendahului gerakan sang imam. Hal ini merupakan manifestasi dari perintah Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan orang yang kalian beri kekuasaan diantara kalian.” (QS. an-Nisa’ : 59)

Jika dalam pelaksanannya imam melakukan kesalahan, dianjurkan bagi makmum laki-laki untuk mengingatkannya dengan cara membaca tasbih dan menepuk tangan bagi makmum wanita. Secara implisit hal ini memberikan pelajaran tentang cara amar ma’ruf nahi munkar yang tepat, yakni dengan cara yang halus atau dengan sikap sopan bukan dengan kekerasan dan tindakan anarkis.

Para pembaca yang budiman!

Dari sisi yang lain, kita juga dapat mengerti bahwa sholat berjama’ah mengajarkan persamaan derajat antar sesama. Bagaiman si buruh dapat berdiri berdampingan dengan sang presiden dalam satu barisan sholat. Ini merupakan suatu gambaran nyata bahwa di hadapan Allah, semua manusia sama, pangkat yang mereka punya di dunia tidak mempunyai arti apa-apa. Hanya keimanan dan ketaqwaan yang membuata mereka mulia di sisi Allah.

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kalian.” ( QS. al-Hujurat : 13)

Shalat berjamah juga memiliki peran bagi persatuan dan kesatuan, serta kerukunan hidup bermasyarakat. Sebab dengannya seorang muslim dapat lebih sering bertemu dengan saudara seiman, berbincang dan bercengkrama. Hingga rasa saling mencintai dan keakraban diantara mereka dapat tumbuh subur dan bersemi.

Saat ini, kian banyak kita jumpai masjid-masjid baru dibangun dengan megah dan mewah namun tak sedikit pula banyak yang kosong dan sepi tak berpenghuni. Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini saya ingin mengatkan dan mengajak pada diri saya pribadi khususnya dan para pembaca yang budiman untuk kembali menyemarakkan masjid. Jangan sampai kesibukan duniawi membuat kita lupa dan meninggalikan sholat berjama’ah. Dengan itu, semoga kita tergolong sebagai orang beriman yang digambarkan dalam firman Alla SWT.:
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (pada siapapun) kecuali pada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( QS. at-Taubah: 18)