Suatu hari, Ibunya Bruddin mengantarkan Bruddin yang saat itu baru berusia 5 tahun, naik bus jurusan Surabaya-Denpasar. Ibunya Bruddin berpesan pada pak sopir, “Pak, titip anak saya ya. Nanti kalo sampe di Banyuwangi, kasih tahu anak saya.”

Sepanjang perjalanan, si Bruddin kecil cerewet sekali. Sebentar-sebentar ia bertanya pada penumpang, “Udah sampe Banyuwangi belom?” Hari mulai malam dan Bruddin kecil masih terus bertanya-tanya. Penumpang yang satu menjawab, “Belom, nanti kalo sampe Banyuwangi dibangunin deh! Tidur aja!” Tapi si Bruddin tidak mau diam, dia maju ke depan dan bertanya pada sopir untuk kesekian kalinya, “Pak, udah sampe Banyuwangi belom?” Pak Supir yang sudah lelah dengan pertanyaan itu menjawab, “Belom! Tidur aja deh! Nanti kalo sampe Banyuwangi pasti dibangunin!”

Kali ini, si Bruddin tidak bertanya lagi, ia tertidur pulas sekali. Karena suara si anak tidak terdengar lagi, semua orang di dalam bus lupa pada si Bruddin, sehingga ketika melewati Banyuwangi, tidak ada yang membangunkannya. Bahkan sampai menyeberangi selat Bali dan sudah mendarat di Ketapang, Bali, si anak masih tertidur dan tidak bangun-bangun. Tersadarlah si sopir bahwa ia lupa membangunkan Bruddin. Lalu ia bertanya pada para penumpang, “Bapak-ibu, gimana nih, kita anter balik nggak anak ini?” Para penumpang pun merasa bersalah karena ikut melupakan si Bruddin dan setuju mengantar si Bruddin kembali ke Banyuwangi. Maka kembalilah rombongan bus itu menyeberangi Selat Bali dan mengantar si Bruddin ke Banyuwangi.

Sesampai di Banyuwangi, si Bruddin dibangunkan. “Nak! Udah sampe Banyuwangi! Ayo bangun!” Kata si sopir. Bruddin bangun dan berkata,

“Oh udah sampe ya!” Lalu Bruddin membuka tasnya dan mengeluarkan kotak makanannya. Seluruh penumpang bingung. “Bukannya kamu mau turun di Banyuwangi?” tanya si sopir kebingungan. “Nggak tuh … kata mama, kalo udah sampe Banyuwangi, saya boleh makan nasi kotaknya!”

Majalah Misykat