Cinta atau dalam bahasa inggrisnya love bisa diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang sesama makhluk. Namun dalam satu konteks kalimat tertentu, dia bisa mewakili ungkapan rasa sedih.

Cinta adalah energi unik yang menggerakkan hati sehingga mampu merefleksikannya dalam bentuk sikap dan perbuatan makhluk hidup. Cinta bisa seperti yang diuraikan Husna dalam film laris “Ketika Cinta Bertasbih”:

“Cinta adalah kekuatan
yang mampu mengubah duri menjadi mawar, mengubah cuka jadi anggur, malang jadi untung,
mengubah sedih jadi riang, mengubah setan jadi nabi, iblis jadi malaikat, sakit jadi sehat,
mengubah kikir jadi dermawan, kandang jadi taman, penjara jadi istana,
mengubah amarah jadi ramah,
mengubah musibah menjadi muhibbah.
itulah cinta.”

Namun demikian, cinta pun bisa merubah mawar menjadi duri dan seterusnya.

Hal seperti itu bisa saja terjadi. Dalam kalam Arab, hati dibahasakan dengan ungkapan ‘Qolb’ yang dalam arti etimologinya bermakna berbolak-balik.

Kata-Kata Mutiara Cinta:

“Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu.” ALI bin ABI THALIB

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. HAMKA

“Tanda cinta kepada Allah adalah banyak mengingat (menyebut) Nya, karena tidaklah engkau menyukai sesuatu kecuali engkau akan banyak mengingatnya.” Ar Rabi’ bin Anas (Jami’ al ulum wal Hikam, Ibnu Rajab)

“Engkau berbuat durhaka kepada Allah, padahal engkau mengaku cinta kepada-Nya? Sungguh aneh keadaan seperti ini. Andai kecintaanmu itu tulus, tentu engkau akan taat kepada-Nya. Karena sesungguhnya, orang yang mencintai itu tentu selalu taat kepada yang ia cintai.”
A’idh Al-Qorni

Demikianlah beberapa kutipan dari sedikit tokoh-tokoh islam yang semoga bisa kita ambil hikmahnya.

Ada yang kurang rasanya, jika saya tak mencantumkan kutipan tentang cinta dari Anna dalam “Ketika Cinta Bertasbih”.
“Cinta menurutku, sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar, namun ketika cinta kudatangi aku jadi malu atas keteranganku sendiri.

Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang. Namun tanpa lidah, cinta justru lebih terang sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya.

Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai pada cinta.
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya. Bagai keledai terbaring dalam lumpur.

Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan”.

Cinta membuat kita mengerahkan segenap usaha meski dengan hasil yang menyakitkan sekalipun. Membiarkan semuanya terbumbung tinggi di atas sana. (Subyektifitas Pribadi)

Semoga cinta kita adalah CINTA yang TULUS dan SEJATI.

allahumma habbib ilaina bil iman, wa zayyinhu fi qulubina, wa karrih ilainal kufro wal fusuqo wal ‘isyan ya rabbal alamin.