Semakin disadari, tantangan dunia islam khususnya dunia pesantren semakin besar dan berat di masa kini dan mendatang. Paradigma “Mempertahankan warisan lama yang masih relevan dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik” benar-benar penting untuk ditinjau ulang.

Mengapa demikian? Pertama, dunia pesantren tidak bisa hanya mempertahahnkan tradisi lama belaka terus menerus. Sebab, tradisi lama tak mesti selalu bisa relevan dengan masa kini. Perlu kita acungkan dua jempol untuk para pemikir islam, karena pada “masa kejayaannya” telah berhasil menggurat tinta emas di pelbagai bidang pemikiran.

Namun generasi sekarang (terutama insan pesantren) tak bisa terus menerus selalu bermakmum pada mereka. Para pemikir itu, adalah anak zaman yang mengerahkan segenap daya ciptanya guna mencerahi zaman mereka. masih relevankah pencerahan mereka jika kita hubungkan dengan kekinian kita? Pertanyaan ini tak bisa dijawab seenaknya saja.

Kedua, hal yang tak kalah penting untuk direnungkan dalam “mengambila hal terbaru yang lebih baik” adalah dengan merangkai secara cerdas problem kekinian kita dengan pendekatan-pendekatan kontemporer.

Tak bisa ditepis bahwa modernitas telah “menawarkan” kita pada banyak hal untuk dipikirkan dan direnungkan, terutama bagi insan-insan pesantren. Arek-arek pesantren ditantang untuk (secara cerdas dan teliti) membaca khazanah lama dan baru dalam frame yang tak terpisah. Boleh jadi masa lalu tersebut akan tampak “basi” dan tak lagi relevan, tapi tak menutup kemungkianan masih ada potensi yang dapat dikembangkan untuk masa sekarang.

<strong>Teori Hermeneutika

Pesantren tak semestinya hanya berdiam diri seolah apa yang dikembangkan (lebih tepatnya dipertahankan) akan terus relevan sepanjang zaman. Tak ada alasan bagi insan pesantren untuk melulu “mempertahankan masa lalu” tanpa mempertimbangkan “perkembangan kontemporer”. Mereka harus berani melakukan pemikiran ulang khazanah masa lalu yang selama ini sudah dianggap mapan dengan mencoba metode-metode baru di luar dunia pesantren. Salah satu metode itu ialah hermeneutika: metode tafsir terhadap teks yang selama ini dikembangkan dunia barat.

Hermeneutika dapat diartikan sebagai teori interpretasi. Menurut Emilio Betti (si-empunya teori interpretasi) teori ini merupakan sarana dalam sebuah pemahaman.Dalam kaitannya dengan itu, interpretasi akan membantu mengatasi kendala pemahaman dan memberikan ketepatan kembali dari pikiran obyektif dari subyek lain.

Untuk melakukan interpretasi-obyektif dan pemahaman yang kuat, Betti menekankan empat aspek penting dalam proses penafsiran;
1) Aspek filologi yaitu rekontruksi terhadap inti dari suatu ungkapan dari sisi gramatika dan logika. Aspek ini bernilai efektif dalam usaha memahami secara peramanen pada simbol-simbol yang sudah pasti. 2) Aspek kritik. Pada stadium ini kita akan dihadapkan pada hal-hal yang membutuhkan sikap yang kritis, semisal mengenai pernyataan yang tidak logia atau adanya gap antara sekumpulan argumen yang muncul. 3) Aspek psikologis. Fase ini akan dibutuhkan ketika kita meletakkan diri dalam posisi pengarang, yakni ketika memahami personalitas dan posisi intelektual si pengarang. 4)Aspek morfologi tekhnis. Aspek yang terakhir ini ditujukan pada pemahaman isi-arti dari kata-kata si pengarang. Pada aspek ini, obyek dipandang apa adanya tanpa keterkaitan dengan sifat atau faktor-faktor eksternal lan.

Bagi sebagian pesantren, hermeneutika adalah barang asing. Tak sampai disitu, karena asal-usulnya dari dunia barat, metode ini patut untuk dicurigai bahkan ditolak. Ini adalah sikap kurang dewasa yang terlihat belakangan ini. Sebab itu, jika pesantren ingin memberi kontribusi efektif-positif bagi kekinian kitasudah seharusnya-lah pesantren berdialog dengan “dunia luar” (apapun warna dan bentuknya) tanpa menaruh curiga berlebih, sekaligus tanpa mengurangi daya kritisnya.