<

(Kenapa Harus Dia?)

Kehidupan ibarat perjalanan di malam gelap gulita yang amat membutuhkan pelita abadi yang tergantung di langit yang senantiasa memancarkan bias cahaya benderang sepanjang tali usia alam ini. Kehidupan pula bagaikan tanah gersang dan tandus yang butuh terhadap air segar, menyejukkan tak lupa pula menyuburkan.

Adakah sosok lain yang menjadi bahan primer tinta sejarah yang dapat diambil oleh generasi penerus sebagai bekal perjalanan mengarungi samudera kehidupan, selain Beliau, Baginda Rasul, Muhammad SAW?

Siapapun yang menatap dalam-dalam kisah hidup Beliau, niscaya akan tersialukan oleh kemilau cahaya mutiara yang amat menakjubkan. Bagaimana Beliau mampu menundukkan pesona duniawi dan mengangkat nilai-nilai kemanusiaan hingga ke suatu tingkatan yang belum pernah disaksikan dalam panggung kehidupan dan belahan bumi manapun.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab:21)

Memang, hanya beliaulah yang patut kita ikuti. Dalam segala hal beliau selalu menjadi nomor satu, dalam hal ibadah, akhlak, politik, ekonomi, berperang maupun dalam hal bermasyarakat dan bernegara.

Jika mempertajam pandangan pada sirrah(kisah hidup,pen.) beliau, kita akan tertakjub melihat sisi kemanusiaan yang begitu indah nan mempesona, sementara beliau hidup di kalangan manusia bertermperamen keras dan bengis yang hidup di dataran panas dan tandus.

Subhaanallah… Tak ada satupun yang dapat menyerupainya dalam hal kesabaran menempa cobaan, keteguhan memegang panji-panji kebenaran, serta kematangan hati dalam menghadapi goncangan dunia. Oleh karena itu, hanya beliaulah yang pantas menyandang gelar “Uswatun Hasanah”, satu-satunya manusia yang memiliki kemanusiaan yang bermartabat tertinggi dan patut bahkan selalu dijadikan panutan seluruh manusia hingga usangnya usia alam ini.

Terlepas dari kontroversi dalam perayaan maulid nabi Muhammad SAW, kita sebagai ummatnya seyogyanya senantiasa menjunjung tinggi beliau, menjadikan beliau sebagai pelita penerang jalan hidup kita.

Allah telah membentuk diri Rasulullah SAW terhindar dari kepalsuan hawa nafsu duniawi yang menyesatkan. Sungguh, siapapun yang mengumpulkan butiran mutiara dari samudera hikmah sang manusia mulya ini, niscaya akan semakin mengerti kalau dunia ini memang membutuhkannya. Bahkan duniapun takkan mampu mencapai cita-cita keberadaanya kecuali harus mengambil teladan beliau nan indah.

Setiap perkataanya mangandung makna sampai pada hakikatnya, itu semua karena keluar dari lidah, hati yang ternanungi iman dan taqwa yang di belakangya ada perlindungan Allah Azza Wa Jalla. Lantas, masihkah kita ragu memuliakan beliau dan menjadikannya sebagai figur yang terpantas diteladani dalam perjalanan skenario hidup kita?

ALLAHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA AALIHI WA SHOHBIHI AJMA’IIN.