Apa sih, kaidah fiqh itu? Seberapa penting kita harus mempelajarinya? Dan manfaat apa yang kita peroleh darinya? Pertanyaan itulah yang pertama kali muncul ketika saya mulai menginjak jenjang pendidikan akhir Madrasah Riyadlotul ‘Uqul (MISRIU) PONPES. Al-Falah Ploso Kediri.

Mengutip ungkapan dari Dr. Musthofa al-Zarqa’ (w.1357 H.) dalam kitab al-Madkhal al-Fiqh: “Andaikata kaidah fiqh tidak ada, maka hukum-hukum fiqh akan tetap menjadi ceceran-ceceran hukum yang secara lahir saling bertentangan satu sama lain.”

Benar juga! Jika kita terus-menerus berkutat mempelajari hukum-hukum fiqh secara parsial (furu’), maka kita akan sering dibuat bingung menghadapapi persoalan-persoalan yang berkarakter sama dengan ketentuan hukum berbeda.

Meski telah banyak biaya yang dikeluarkan dan menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya dan kita masih saja bertahan dengan mempelajari hukum secara parsial-partikular tanpa disertai dengan prinsip-prinsip dasar, maka yang dapat kita kuasai hanyalah sebatas hukum yang kita pelajari, smentara diluar itu kita tak mampu mengetahuinya.

Oleh sebab itulah kaidah fiqh hadir guna mengurai nilai-nilai esensial syariat dengan lugas, logis dan rasional, sehingga yang kita sangka dulunya sebagai kontradiksi akan sirna seiring kita memahami konsepsi kaidah fiqh tersebut.

Dengan memahaminya kita akan lebih mudah mengetahui hakikat fiqh, dasar hukumnya, landasan pemikirannya,dan rahasia-rahasia di dalamnya. Selain itu, kita akan mudah mengetahui pemecahan masalah-masalah fiqh dengannya, yang mana hukum-hukum tersebut belum tercantum dalam kitab-kitab fiqh konvensional.

Dalam tulisan kali ini saya lebih menitikberatkan keterangan yang ada dalam syair “al-Faroid al-Bahiyyah” yang merupakan kitab panduan dalam pesantren saya guna mempelajari kaidah fiqh.

Syair ini sebenarnya merupakan gubahan dari kitab “al-Asbah wa al-Nadhoo’ir (Jalaluddin al-Suyuthi). Penggubah syair ini adalah ulama yang dilahirkan di desa halah sebelah utara Dir Mahdal, Yaman. Lewat karyanya, Beliau mampu merangkum kitab “al-Asbah wa al-Nadhoo’ir dalamj bentuk syair hingga memudahkan kita untuk mengahafalnya.

Selain itu, beliau menyusunbait demia bait secara sistematis dengan bahasa simpel tampa mengurangi esensi dari tiap kaidah.

Mudah-mudah usaha saya dalam mencoba merangkum ulang pelajaran kaidah fiqh yang saya terima selama di pondok, mendapat ridhjo dari Allah SWT. tanpa halangan suatu apapun.

Amien…