Solidaritas dapat kita artikan sebagai rasa kesetiakawanan, merasa sepenanggungan diantara individu dalam sebuah golongan atau kelompok hingga sesama makhluk sedunia secara luas. Rasa ini, entah disengaja atau tidak, pasti akan muncul begitu saja ketika salah satu dari rekan atau saudara kita mengalami permasalahan yang menggiring kita untuk merasa terpanggil ikut merasakan bahkan memecahkannya.

Seringkali saat salah satu dari rekan atau kita sendiri mengalami permasalahan, selalu ada orang yang ingin mencoba membantu baik moral maupun material. Rasa solidaritas menjadi sangat urgen bagi erat tidaknya hubungan antara anggota suatu golongan. Semakin tinggi rasa itu, maka semakin kuat pula golongan tersebut. Sebaliknya, semakin rendah rasa solidaritas suatu golongan, tak diragukan lagi bahwa golongan tersebut menjadi lemah dan terpecah belah.

Komunikasi antar anggota mempunyai peran yang signifikan dalam perjalanan suatu golongan. Jika komunikasi tetap terjaga , niscaya hubungan sosial antar anggota suatu golongan terlihat erat dan dulit terpecah belah.

Dalam tulisan kali ini, saya tidak akan berpanjang lebar dalam menguak makna dari solidaritas. Hanya saja, saya ingin sharing tentang pengalaman yang saya alami baru-baru ini. Tepatnya malam kamis (06/01/10) saya bahagia sekaligus bangga terhadap rekan-rekan saya yang dengan lapang dada mampu memaafkan kesalahan saya yang bahkan menurut saya hal itu sangat berat untuk dimaafkan apalagi terlupakan.

Semua berawal dari kepergian saya tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu. Dengan niatan jalan-jalan keluar pondok sekedar melepas penat. Entah setan mana yang merasuki saya hingga saya berfikir tak kembali ke pondok untuk sementara waktu.

Hingga pada hari ke-3 kepergian saya, Abah menginformasikan bahwa saya harus segera pulang ke rumah nenek di Jember karena ada salah satu anggota keluarga yang meninggal dunia. Sayapun lantas bertolak ke jember dan ironisnya baterai Hand-Phone habis. Terpaksa saya tak dapat mengabari rekan-rekan tentang keberadaan saya di Jember.

Alhmdulillah, setibanya di Jember, dengan meminjam HP salah satu saudara sepupu say memngabari teman-teman saya. Dengan nada sedikit kecewa, mereka memaklumi kepergian saya. Mereka sempat bingung mencari keberadaan saya.

Genap 7 hari di jember, saya kembali ke pondok. Dan yang membuat saya bahagia tak percaya terhadap sambutan rekan-rekan dan pemaafan mereka terhadap kesalahan-kesalahan saya. Dengan legowo mereka memaafkannya.

Kawan! Terimakasih banyak atas ke-soldaritas-an kalian. Sungguh saya bangga terhadap kalian yang sudi berlapang dada memaafkan kesalahan saya. Dan akupun berjanji, seraya memohon restu dari kalian mudah-mudahankesalahan tersebut tak kuulangi. Aku yakin kalian dengan tulus memaafkan saya.

Sekali lagi terimakasih, kawan!

Kediri, 02-jan-2010.