Betapa hatiku takkan pilu
telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
hamba ditinggal sendiri

Penggalan lagu Ismail Marzuki serasa menggetarkan lubuk hati saya saat didengarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Inna lillahi wa Inna ilaihi roji’uun. Rabu (30/12/09) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Presiden RI keempat KH. Abdurrahaman Wahid atau yang kerap disapa gus Dur telah menghembuskan nafas terakhir.

Di saat hiruk pikuk permasalahan negara, Indonesia kembali diuji oleh Allah dengan wafatnya salah satu putr terbaik negeri, Guru Bangsa yang tak lagi diragukan atas keilmuannya.

Sedari kecil saya telah mengidolakan tokoh yang terkenal dengan ke-pluralisme-nya ini. Bergaya nyentrik, sering melontarkan jokejoke lucu namun sarat makna. Abah saya pun mengidolakan beliau, hingga setiap beliau muncul di layar televisi entah dalam keadaan apapun, Abah seakan tak mau ketinggalan acara tersebut. Mungkin karena itu pula saya mengidolakan beliau.

Namun,terlepas dari ngikut-ngikut Abah, memang dari sosok gus Dur saya melihat seorang yang berpendirian tegas, tak kenal menyerah, dan cerdik. Saya secara pribadi, mendaulat diri sebagai murid beliau meski karena terlampau agung ilmu beliau hingga tak secuilpun yang mampu saya serap dari ilmunya. Hanya mampu mlongo takjub dengan semua pendapat dan tindakan beliau.

Sungguh, duka saya dan duka kita semua sudah tak terperi lagi. Guru bangsa yang telah memberi warna indah dalam perjalanan bangsa ini. Memang tidak sedikit kalangan menyayangkan beliau dilantik menjadi Presiden RI ke-4. Bukan karena kekurang fisik yang beliau miliki, hanya sepertinya beliau lebih pantas mendapat jabatan yang lebih tinggi dari Presiden, Penasehat Presiden misalnya.

Gitu Aja Kok Repot

Banyak stetmenstetmen Beliau yang menarik perhatian kita. Dalam ilmu Balaghoh (sastra arab) dikenal sebagai istijlaab nafsis sami’ (menarik perhatian audiens). Tak disangsikan lagi, beliau ahli dalam disiplin ilmu arab yang satu ini. Seringkali ketika diwawancarai oleh wartawan belia melontarkan jawaban yang nyeleneh tapi masuk akal.

Salah satu yang mungkin kita ingat adalah ungkapan “gitu aja kok repot”. Saya baru mengerti asal-usul ungkapan tersebut. Ternyata asal muasal ungkapan ntersebut adalah ketika di awal pemerintahan gus Dur melantik Mahfudz MD yang notabene adalah guru besar ilmu hukum sebagai Menteri Pertahanan pertama dari warga sipil.

Tak ayal Mahfudz pun berusaha menolak dan berargumen bahwa dia sama sekali tak mempunyai latar belakang militer. Apa jawab gus Dur? Dengan santai beliau berkata,” Saya saja yang tidak mempunyai latar belakan presiden bisa menjadi presiden! gitu aja kok repot“.

Penghormatan Terakhir

Entah akan jadi apa negara ini jika saja beliau tak menjabat sebagai presiden disaat carut-marutnya negara yang pada saat itu tengah dilanda krisis multidimensi. Saya yakin jika saja kesehatan beliau tak terganggu saat itu, Indonesia akan dibawanya pada gerbang baru nun biru.

Banyak sekali cobaan yang beliau hadapi, namun beliau tetap mengerahkan seluruh upaya guna membawa indonesia menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi.

Saat ini beliau telah menghadap kepada-Nya. Tunai sudah janji bakti beliau di negeri ini. Mudah2an semua amal ibadahnya diterima disisi-Nya. Amien ya robbal alamien.

Kepada beliau kita hadiahkan fatihah. Alfatihah…