kerjasama1-300x211Sehubungan dengan judul tulisan saya kali ini, saya coba untuk mengutarakan dua kisah yang pernah saya alami.

*Kisah Pertama.

Berlibur di desa memang selalu saya rindukan. Bertemu orang-orang terkasih mulai dari nenek, paman, pakde dan sanak saudara lainnya. Satu yang paling saya senangi selain pemandangan alam yang masih natural adalah tingkah polah anak-anak kecil desa yang masih lugu dan polos.

Dengan keriangan mereka serasa tak menghiraukan hiruk pikuk kehidupan orang kota yang dipenuhi dengan peselisihan dan persaingan bisnis.

Seperti biasa selepas sekolah anak-anak desa itu berkumpul di halaman rumah nenek. Entah mengapa setiap bermain dapat dipastikan mereka akan memilih untuk bermain di halaman rumah nenek. Mungkin karena sejuk dan memang halaman rumah nenek terbilang luas dan rindang.

Benteng‘, kalau tidak salah itu permainan yang saat itu mereka mainkan. Permainannya sederhana. Pemain dibagi menjadi dua kubu yang masing-masing kubu harus berusaha menjaga benteng mereka dari sentuhan lawannya. Demikian pula mereka harus berusaha dapat menyentuh benteng musuh. Benteng bisa berupa tiang atau batang pohon.

Namun ketika berusaha menyentuh benteng musuh, mereka harus berusaha agar tak tersentuh lawan. Jika tersentuh mereka akan tertangkap dan dimasukkan ‘penjara’. Bagi kubu yang temannya tertangkap bisa menyelamatkannya dengan cara menyentuhnya tentu saja dengan hati-hati agar tak tertangkap juga.

“Tenang, kamu akan kubebaskan” Seru seorang bocah pada kawannya yang tertangkap. Dan akhirnya walau dengan susah payah dan sempat terjatuh dengan kelincahannya dia dapat menyelamatkan temannya. “Makasih” Ujar bocah yang telah diselamatkan.

Aku termenung memperhatikan polah mereka. Walau betapa polosnya, mereka menyadarkanku arti tolong menolong pada saya. Bocah itu berani berkorban dengan susah payah hingga sempat terjatuh guna menyelamatkan temannya. Dan yang ditolong tak lupa mengatakan terimakasih. Ahh, betapa indahnya jika hidup seperti bocah-bocah itu. Bagaimanapun mereka telah memberi tamsil kepada saya bahwa manusia adalah makhluk sosial yang secara kodratnya harus dapat hidup berdampingan dan tolong-menolong.

*Kisah Kedua.

Waktu itu, beberapa hari yang lalu sekitar jam 4 sore aku berniat menghilangkan penat selepas ngobrak-ngabrik kitab fiqh guna mencari jawaban pertanyaan seorang ilhwat perihal hukum bersalaman dengan non muhrim (lihat: Bersalaman Dengan Non Muhrim). Jalanan saat itu cukup padat. Mulai dari sepeda motor hingga truk-truk yang bermuatan ‘gandengan’.

Suara lagu di MP3 yang tergantung di leher, serasa menutupi telingaku dari kebisingan deru suara kendaraan yang berlalu-lalang. Sedang asyik mendengarkan lagu, tiba-tiba di hadapanku seorang wanita yang mengendarai skuter-nya kehilangan keseimbangan setelah bermaksud menghindari sebuah mobil di depannya yang mengerem mendadak. Tak ayal wanita itupun jatuh tersungkur.

Spontan jiwa kemanusiaanku timbul. Kudekati wanita itu dan kubantu mendirikan dan meminggirkan sepeda motornya. “Nggak apa-apa mbak?” Tanyaku. “Nggak apa-apa mas!” Jawabnya. Alhamdulillah, hanya itu yang dapat kami ucapkan atas semua anugerah yang telah Allah berikan. “Lain kali hati-hati mbak!”. “Ya mas, terimakasih udah mau nolongin”. Serunya seraya mohon pamit kepada saya.

Dari cerita di atas, saya sadar, bahwa saya sebagai manusia suatu saat pasti jiwa sosial yang secara fitrah telah terpatri di diri saya akan muncul. Sungguh naif melihat mereka yang merasa bahwa dirinya tak memerlukan orang lain dalam setiap tingkah lakunya.

Saling tolong menolong merupakan kewajiban setiap manusia sebagai individu dalam hidup bermasyarakat. Sekarang mugkin orang lain membutuhkan kita, boleh jadi besok kita yang berbalik butuh terhadap orang lain. Hal inilah yang menggugah kesadaran kita bahwa sebagai individu seharusnya kita saling bahu membahu untuk mewujudkan kebutuhan masing-masing secara bersama-sama.

Dalam kehidupan islami akan sangat indah bila rasa saling tolong menolong diniatkan hanya karena Allah. Karena dengan begitu, maka akan terjalin ukhuwah/persaudaraan yang kuat di antara sesama muslim.

Wallahu a’lam bisshowab.