tears
(Yaa Muqollib alQulub, Tsabbit Qolby Bi ‘ibadatik)

Kereta mimpi terhenti
Kisah ini hanya beberapa saat
Hingga pelancong mengambil jalan

Jiwa mulai rentan
Menggapai namun tak tercapai
Mencari tapi tak terjamah

Kilat di ujung bumi
biarkan jadi saksi hati
biarkan dia menterjemahkan isi hati

Yaa, Rabb…
Bukankah Kau Maha Pemurah?
Tapi tetap Kau hadirkan wajahnya dalam mimpi?
Apakah itu hanya sinar lampu jalan?
atau hanya gerimis malam?
atau mungkin ledakan warna di timur?
atau sekedar lagu menggema?
atau bahkan itulah tepian
tempat bidukku berlabuh?

Dengannya, aku dapat hidup
dengan bibir tanpa sedikitpun tertutup
dan ‘kan kujemur mata ini
hingga tiada lagi embun kesedihan

Lihatlah apa yang kupelajari?
Bagaimana ku gambarkan kejamnya dunia?
Walau aku diperintahkan harus hidup tanpanya
Dalam hati,
api cinta selalu menyala untuknya
Hanya untuknya

‘Kan ku ikuti alur hidup
dan kubiarkan kenangan menyelimuti
Dan kuharap kelak,
‘kan kutemukan semua jawaban yang kucari.