(teruntuk serpihan kisah lalu)

Rongga jiwa menggigil
Teriris petir di ujung bulan
Mentari yang tak bernampak
Tak lagi ingin tersenyum?

Cahaya menghilang
Kamar hati meredup
Gelap bagai terkunci
Jernih hati tercemari kedukaan

Tak lagi tercium harum bunga
Musnah dalam sendu yang belum berakhir
Kucoba menghimpun kelopak bertebaran
Walau sang bayu berhembusan

Sering tak bisa kutangkap bahasa angin
Walau ombak di laut sering berbisik
Dusta mencuat
Suara hati terkhianat

Dimanakah mentari bersemayam?
Kemana ku menuju bertemu rindu?
Seberapa banyak tempat berteduh?
Jawab!

Di bangku biru ku sendiri
Tergumam tak berkata
Ku dambakan permata
Terganti duri berbisa

Ada yang tak mampu kulupa
Serangkaian kisah usang
yang terlingkupi senang
Tergambar di gelap malam
dan tersimpan di pucuk dedaunan

Langit di atas kerikil jalan
menemaniku bersunyi
Bagai gejolak pohon runtuh
Bersama luka dan cinta
Ku sempat melebarkan bibir
Mencoba tersenyum

Mungkin aku kumbang sudra
yang berusaha hinggap pada bunga istana
Sedang kau dikelilingi oleh kumbang ksatria

Ada yang mesti kupikir lagi
Melepas dendam dan sakit hati
dan berjuang membunuh benci
Rabb, jagalah hati ini

Dari peraduannya
mentari seakan tak ingin pindah
Semoga terganti oleh pelangi nan indah