salamanBanyak hal menarik yang saya alami saat mudik bulan puasa tahun ini di Nabire, tanah kelahiran saya. Salah satunya saya diminta Abah untuk mengisi KulTum di Masjid sekitar. Saya terkejut, bukankah saya masih minim pengalaman? Tapi dengan support dari Abah dan semangat belajar saya bersedia melakukannya. Bukankah ini dapat menambah pengalaman dan wawasan saya?

Tak jarang beliau para jamaah, melontarkan pertanyaan seputar agama. Salah satunya tentang hukum bersentuhan dalam hal ini adalah bersalaman dengan orang yang bukan mahrom.

Seringkali kita menjumpai orang yang ketika kita ingin bersalaman dengannya mereka malah menolak dengan merapatkan kedua tangan dan menaruhnya di bawah dagu. Tak jarang kita kecewa bahkan bisa sampai mencibir mereka. Jadi, bagaimana pandangan islam tentang masalah di atas?

Tak gampang menjawabnya. Soalnya di kalangan ulama sendiri masih terjadi silang pendapat. Ada yang memvonis mutlak haram. Ada pula yang menghukumi makruh dengan catatan tanpa disertai syahwat, salah satunya adalah Imam Nawawi. Bahkan beliau menghukumi sunnah jika bersalaman hingga mencium tangan pada orang yang mulia derajatnya dengan niatan mendapat berkah yang dalam hal ini seperti dicontohkan oleh para santri putri terhadap kyainya.

Sebenarnya perihal bersentuhan dengan non mahrom sudah tertera dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam Thabrani:
La an yuth’anna fi ro’si ahadikum bi mikhyatin min hadiidin khairun min an yatamaass’sa imro’atan laa ta’hilu lahu.
artinya: Sungguh menusukkan besi panas pada kepala dari salah satu kalian(lelaki) itu lebih baik dari pada dia menyentuh wanita tanpa penghalang.

Jika lebih jauh menimbang dengan qowaaidul fiqh, bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan maslahatul ‘ammah (kebaikan umum, pen) dapat dimaklumi. Demikian halnya saya yang lebih setuju pada pendapat yang menyatakan makruhnya bersalaman dengan non mahrom. Namun, itu dengan catatan untuk menjaga perasaan orang dan tanpa adanya syahwat.

Selain itu dalam Faroidul Bahiyah (kitab tentang kaidah-kaidah ilmu fiqh, pen), ada sebuah kaidah fiqh yang berbunyi “idzaa ta’aarodlo al amru wal adab quddima al adab” (jika sebuah perintah dan tatakrama bertentangan, maka yang didahulukan adalah tatakrama).

Jelas sudah dengan alasan memulyakan tamu, teman atau orang lain yang bermaksud ingin bersalaman dengan kita maka bolehlah kita untuk sekedar bersalaman. Karena setiap sesuatu yang dimaksudkan bertujuan baik maka (perbuatan itu) menjadi baik.

Inilah hukum asal dalam masalah ini. Namun jika perbuatan itu digunakan untuk kepentingan dan tujuan yang jelek, maka termasuk perbuatan yang terhina. Sebagimana perbuatan baik yang diselewengkan untuk kepentingan yang tidak dibenarkan. Banyak perbuatan (amal) akherat dapat berubah sia-sia karena disertai niat yang buruk.

Alhasil, jawaban akhir yang lebih diplomatis ialah kedua pendapat tak ada yang salah. Sebetulnya ini menurut keyakinan masing-masing. Dosa itu ada dosa besar ada dosa kecil. Dosa bersalaman dg lawan jenis termasuk dosa kecil pada yg mengharamkan. Jadi terserah anda mau ikut yg mana. Hormati saja keyakinan orang lain bila dia hanya mangatupkan telapak tangan tandanya dia meyakini salam lawan jenis tidak boleh maka anda cukup mengatupkan telapak tangan juga. Perbedaan kecil jangan merusak kesatuan umat.

“Ikhtilaafu ummati rohmatun” (perbedaan yang terjadi diantara umatku (rasulullah) dapat menghadirkan rahmat).

Mudah-mudahan perihal di atas dapat membuat kita lebih mengerti arti perbedaan. Karena salah satu ciri orang dewasa ialah mampu hidup berdampingan dengan individu yang berbeda.

Wallaahu a’lam.