sketsa
(telah, sedang dan akan dicinta)

Saat mentari meredup
dan bulan mulai membakar
Langit mulai mencair
Berdiri diatas bumi bergelombang

Hati termenung
Mulai mencoba mengaitkan tambatan
Mencari jawaban

Saat indah tiba semua berubah
Aku yakin
Mimpi ‘kan jatuh dalam pelukan kenyataan
Untuk sedemikian menemuimu

Bumi yang bergerak
terdiam sesaat kau nampak
Hanya dengan cahayamu
kuwarnai hidup

Mengapa?
Setelah berusaha mendapatkanmu,
kukehilangan diriku
Setelah kutenggelam dalam telaga cinta
diri berubah menjadi samudera
Laut hatiku telah menjadi haus
Malamku terus terjaga

Mengapa?
Pertama bertemu
hati gelisah tak menentu
mendengar kata-kata emasmu

Demi cinta
Akan coba kusatukan air dengan api,
tanpa harus ada yang mendidih ataupun padam
Ingin kuciptakan lengkung sempurna pelangi
tanpa harus menunggu redanya hujan

Maka, saat penggalan malam yang ke duapuluhtiga
saat padamnya rona rembulan
dan dinyalakannya sinar matahari,
Terselip bayang dirimu diantara do’aku.

Kaulah hidupku
Kaulah bumi tempatku berpijak
Kaulah langit ruang bernafasku
Tanpamu aku kehilangan alasan untuk hidup
Rabb, sekali lagi maaf!
Telah ada cinta lain di hati