kucing dan tikusTerkisah hiduplah seekor kucing betina bersama anaknya. Mereka hidup bahagia. Setiap harinya sang ibu keluar mencari makan sementara si anak bermai di sekitar rumah. Bisa dipastikan sang ibu selalu membawa banyak makanan hasil buruannya. Si anak yang menunggu dengan setia berlonjak gembira menyambut ibunya yang membawa hasil buruan lebih banyak dari yang biasanya.

Waktu berjalan anak kucing tumbuh besar dan sehat. Sang ibupun bermaksud mengajarinya berburu. “Ah, aku tak mau berburu. Toh, ibu masih kuat berburu sendiri” Ujar si anak menolak ajakan sang ibu. “Ya sudah kalau kau tak mau. Hati2 di rumah ya nak!”.

Rupanya sang ibu mulai digerogoti usia. Dia tak segesit dulu, tubuhnya semakin lemah bersamaan dengan bertambahnya usia. Dia mulai sering sakit2an. Prsediaan makanan di rumahpun semakin menipis. “Pergilah berburu,nak!” Perintah sang ibu. “Kepala keluarga disini ‘kan ibu. Jadi ibu harus bertanggungjawab. Ibu yang berburu bukan aku!” Elak si anak. “Tapi ibu sedang sakit. Badan ibu lemah”. “Ah! Kalau begini caranya aku akan mencari ibu yang lebih kuat, agar dia bisa menjaga dan selalu merawatku”.

Begitulah, si anak kucing meninggalkan ibunya yg sedang sakit untuk mencari ibu yang lebih kuat.

Setibanya di padang rumput dilihatnya matahari yang bersinar terang. “inilah yang seharusnya menjadi ibuku. Dia besar pasti tak ada tandingannya”.

“Assalamulaikum” Sapanya kepada matahar. “Waalaikum salam, hai anak kucing hendak perlu apakah kau menemuiku?. Tanpa berbelit-belit si anak kucing menjawab,” Maukah kau menjadi ibuku? Kau besar tampak kuat. Seakan tak ada yang bisa mengalahkanmu”. “Memang aku besar, tapi salah jika kau menganggapku paling kuat. Aku tak bisa bersinar jika awan mulai menutupiku. Pergilah ke awan, mungkin dia yang paling pantas menjadi ibumu”.

Pergilah si anak kucing itu menemui awan. “Ahh…!!! Ada-ada saja kau ini”, jawab awan ketika si anak kucing mengucapkan seperti permintaannya pada matahari. “Walau kau dapat menutupi sinar matahari, tapi aku tak dapat mengalahkan angin yang mengombang-ambingkanku semau hatinya. Temui angin! Dialah yang seharusnya menjadi ibumu.” Kata awan menyarankan.

Saat bertemu angin si anak kucing terkagum-kagum saat angin berhembus dengan kencangnya. “wahai angin! Maukah kau jadi ibuku?” Pintanya. “Kenapa kau mau jadi anakku?” “Kau dapat mengombang-ambingkan awan. Pasti kau sangat kuat.” Jawab si anak kucing. “Tak kau lihatkah, ketika aku berembus dan berusaha menggoyahkan gunung itu? Alih-alih merobohkan gunung, malah aku yang terpelanting tak berdaya. Pergilah ke gunung! Dia lebih kuat dariku!”.

Kembali dia terkagum saat ia melihat bentuk gunung yang begitu besar. “Wahai gunung! Sudikah kau menerimaku sebagai anakku. Kau tampak kuat, pasti aku akan merasa aman bersamamu”. “Ada apa kau ini? Tak kau lihatkah punggungku yang terluka akibat injakan dan tandukan kerbau itu? Pintalah dia menjadi ibumu! Dia lebih kuat dariku”.

Dijumpainya sang kerbau. “Jadikan aku anakmu! Kau dapat mengalahkan gunung yang begitu besar, pastinya kaulah yang terkuat”. “Memang aku dapat mengalahkan gunung, namun aku selalu takut jika rotan ini dicambukkan ke punggungku. Dialah yang lebih pantas menjadi ibumu, dia lebih kuat dariku”. Ujar sang kerbau menyarankan.

“Sudilah kau jadi ibuku” Pinta si anak kucing kepada rotan yang berada di samping kerbau. “Aku tak pantas menjadi ibumu, lihatlah akarku yang setiap hari digerogoti oleh sang tikus. Tubuhku terasa lemah karena akarku mulai berkurang digerogoti oleh tikus itu. Temuilah sang tikus, karena dia lebih kuat dariku!”.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, pergilah si anak kucing menemui sang tikus. Setibanya di tempa sang tikus, para anak tikus lari terbirit karena kedatangannya. Sang induk tikuspun berusaha melindungi anak2nya. Si anak kucing perlahan mendekat, dan bermaksud mengutarakan isi hatinya.

“Haah…???” Ujar tikus heran sesaat ketika mendengar permintaan si anak kucing. “Apa aku tak salah dengar? Mengapa kau ingin menjadikanku ibumu?”. “Aku sudah menemui seluruh penghuni hutan. Semua yang kukira kuat dan tak ada tandingannya, ternyata menolakku menjadi anaknya. Dan akhirnya atas saran sang rotan aku menemuimu karena kaulah yang terkuat. Kau dapat membuat rotan tak berdaya dengan seringnya kau menggerogoti akarnya hingga tubuhnya merasa lemah. Sedang ibuku kini tak becus merawatku karena sering sakit2an.

“Wahai anak kucing! Tidakkah kau lihat anak2ku begitu takut saat kau mendekati tempat kami? Mereka takut jika saja kau mau memburu dan menerkam kami. Takkah kau tanya ibumu, daging apa yang dia bawa dari berburu? Setiap harinya kami merasa tak aman karena ibumu selalu memburu kami. Dia begitu kuat dan cepat. Kami tak berdaya menghadapinya”.

“Wahai anak kucing! Seharusnya kau bersyukur karena diberi ibu yang kuat dan sangat menyayangimu. Pulanglah dan minta maaflah atas semua kesalahanmu padanya”.

(Dongeng sebelum tidur dari ummi tercinta)