Oleh: Gus Mus.

Mula-mula adalah dua sejoli ”imigran” dari sorga, Adam dan Hawa, yang diserahi Tuhan mengelola bumi ini. Kemudian, mereka menurunkan keturunan yang disebut manusia. Manusia berkembang semakin lama semakin banyak meramaikan planet ini. Ketentuan-ketentuan Tuhan yang dibawa dan diajarkan Adam a.s. sebagai panduan untuk mengelola bumi dan wasilah untuk kembali ke sorga, menuju kepada-Nya, semula dipatuhi dan ditaati oleh semua anak-cucunya. Namun dengan perjalanan waktu, kian lama ketentuan-ketentuan itu dilupakan dan diabaikan oleh cicit-cicit Adam yang datang belakangan.

Atas kemurahan dan kasih sayang-Nya, Allah pun mengutus Nuh a.s. untuk mengingatkan manusia kembali kepada ketentuan-ketentuan-Nya itu. Bertahun-tahun, Nabi Nuh a.s mengajak manusia untuk kembali kepada jalan Allah, ketentuan-ketentuan Allah itu, hingga akhirnya Nabi Nuh a.s kehabisan cara untuk menyadarkan mereka. Hanya beberapa puluh orang yang mengikutinya; yaitu mereka–yang ketika banjir azab menyapu manusia— ikut bersamanya dalam bahtera.

Nabi Nuh a.s. dan para pengikut setianya kemudian–setelah banjir surut—membangun kembali peradaban baru sesuai ketentuan-ketentuan Ilahi semula. Namun sejarah berulang. Seiring perjalanan waktu dan berkembangnya jumlah manusia, semakin lama manusia pun kembali banyak yang lupa dan mengabaikan ketentuan-ketentuan Ilahi yang diajarkan nabi Nuh a.s.

Dan atas kemurahan dan kasih sayang-Nya, Allah pun kembali mengutus utusan untuk mengingatkan dan menyadarkan manusia. Demikian seterusnya. Setiap kali lupa dan ketidaksadaran sudah menjadi ”peradaban” manusia, Allah mengutus utusan-Nya. Sampai akhirnya, Allah mengutus utusan terakhir, Nabi Muhammad SAW.

”Semula manusia itu satu umat, lalu Allah mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan…” (QS.Al-Baqarah:213)

“Tiadalah semula manusia itu melainkan satu umat, lalu mereka berselisih. Seandainya tidak ada ketentuan yang mendahului dari Tuhanmu, pastilah akan diputuskan (di dunia ini) antara mereka mengenai apa yang mereka perselisihkan.” (QS.Yunus: 19)

Ketentuan-ketentuan Ilahi yang dibawa nabi-nabi itulah kiranya yang kita istilahkan sebagai agama. Dari sisi lain; ternyata sesuai kehendak Allah, manusia tidak pernah lagi dapat menjadi umat yang satu dan memang tidak dikehendaki demikian. Seandainya Allah menghendaki niscaya dengan mudah manusia akan menjadi satu umat seperti semula.

”Seandainya Allah menghendaki pasti (dapat dengan mudah) ia menjadikan kamu umat yang satu; tapi Ia hendak menguji kalian tentang apa yang telah Ia berikan kepada kalian, maka berlombalah mencapai kebaikan-kebaikan. Hanya kepada Allahlah tempat kembali kalian semua, lalu Ia menceritakan mengenai apa yang pernah kalian perselisihkan.” (QS.Al-Maidah: 48).

Perhatikan redaksi firman Allah di atas. Allah berfirman ”Seandainya Allah menghendaki…”, berarti Allah tidak menghendaki menjadikan kita semua umat yang tunggal.

Maka, meskipun manusia berasal dari satu bapa, Nabi Adam a.s, dan satu ibu, ibu Hawa; atau berasal dari satu bahtera, bahtera Nabi Nuh a.s., selamanya tidak bisa diseragamkan. Maka, upaya penyeragaman oleh siapa pun adalah sia-sia.

Di Indonesia, pernah ada upaya gila selama lebih 30 tahun ingin menyeragamkan bangsa ini. Jalan pikirannya boleh jadi: kalau bangsa ini seragam maka akan harmonis hidupnya. Kegilaan menyeragamkan ini tidak hanya sampai soal pakaian, namun sampai ke soal ngecat tembok rumah (termasuk rumah Tuhan: masjid) dan marka jalan.

Akibat dari kegilaan orde baru menyeragamkan itu, bangsa ini menjadi sulit berbeda. Berbeda sedikit, bertikai. Bahkan, ada yang dengan semangat kebencian menolak kemajemukan dengan kekerasan. Padahal, sejak mula bangsa ini mempunyai semboyan Bhineka Tunggal Ika yang menyiratkan kemajemukan dan kesadaran tentang kefitrian perbedaan.

Sebenarnya, Allah sudah berkali-kali “menegur” dan “mengingatkan” kita tentang kefitrian perbedaan itu; misalnya dengan hampir selalu terjadi perbedaan dalam penetapan Idul Fitri, dengan banyaknya partai dan selalu munculnya ormas-ormas baru yang nota bene dari kelompok yang sama secara ideologi. Bahkan, kalau kita “cerdas”, sebenarnya Tuhan sudah pernah “memberi pelajaran” yang dahsyat tentang kefitrian perbedaan ini, yaitu saat menganugerahi bangsa ini dengan imam atau presiden Gus Dur yang begitu kontroversial.

Nah, kini saatnya kita “belajar” kembali tentang kefitrian perbedaan itu dengan adanya momentum pilpres yang menampilkan tiga pasang capres-cawapres yang semuanya tokoh Indonesia yang semuanya mengaku ingin mensejahterakan rakyat Indonesia. Kita lihat, apakah mereka para capres-cawapres, para tim sukses masing-masing, dan kita semua dapat menyikapinya dengan dewasa atau setidaknya menjadikannya latihan kedewasaan. Kedewasaan ditandai terutama oleh kemampuan berbeda. Wallahu a’lam.

(Sumber: GusMus.net)