Terkisah Junaid Al-Baghdady ketika masih menempuh ilmu agama di salah satu guru di Baghdad, beliau menjadi murid kesayangan gurunya hingga teman seperguruannya merasa iri terhadapnya.

Rupanya kecemburuan para santri terdengar oleh sang guru. Sang gurupun memanggil para santri tak terkecuali Junaid Al-Baghdady. Para santri saling bertanya-tanya ada apa gerangan tiba-tiba sang guru mengumpulkan mereka.

Ternyata sang guru memberi mereka seekor ayam dan sebilah pisau. Santri-santri tetap tak mengetahui alasan gurunya memberi itu. “Kalian semua harus menyembelih ayam kalian masing-masing” ujar sang guru. “Tapi ada syaratnya!” tambahnya. ” Ketika menyembelih jangan sampai ada yang tahu. Terserah kalian ingin menyembelih di dalam kamar, di tengah hutan terpenting jangan sampai ada yang melihat” Kata sang guru mantap.

para santripun bergegas melaksanakn perintah sang guru. Ada yang memilih menyembelih di tengah hutan, ada di dalam kamar, dan lain sebagainya.

Keesokan harinya para santri menghadap sang guru dengan ayam yang telah disembelih, kecuali Junaid Al-Baghdady. Ternyata ayamnya belum juga disembelih. Para santripun menertawakannya.

“Junaid! Mengapa belum kau sembelih ayammu itu?” tanya sang guru. “Guru ini bagaimana sih! Lha wong saya disuruh menyembelih dengan syarat tak boleh satu orang pun tahu. Padahal dimanapun tempatnya selalu ada yang melihat. Walaupun di dalam kamar. Dialah yang Maha Melihat. Saya tak bisa lari dari pengawasannya!” jawab Junaid dengan penuh tawadlu’.

Teman-teman yang budiman! Cerita ini saya dapatkan dari seorang ustadz disalah satu masjid di kawasan Kediri ketika saya mampir guna melaksanakan sholat.