kapitalisme
Di tengah modernisasi dan kapitalisme yang telah meluas seperti sekarang ini, manusia dihadapkan pada satu masalah sosial, budaya dan ekonomi yang pelik. Kebijakan tradisional yang mengajarkan kita untuk bersabar, hidup santun dan damai, serta menghargai keberadaan orang lain mulai terkikis oleh budaya instan dan egoisme individual.

Moral sebagai makhluk sosial pun menjadi rapuh karena krisis kepercayaan di antara sesama manusia. Upaya gotong royong justru terpolarisasi (pembagian atas dua bagian (kelompok orang yg berkepentingan dsb) yg berlawanan,pen) pada kelompok sosial tertentu. Akibatnya, yang terjadi adalah sebuah persaingan doktrin yang relatif tak sehat. Mereka yang dianggap beda nilai dan keyakinan agam dianggap sebagai musuh. Mereka yang beda aliran poltik dianggap sebagai lawan yang harus disingkirkan.

Semua itu tak lepas dari kuasa uang. Uang yang seharusnya dijadikan alat penunjang kemakmuran manusia dari berbagai lapisan masyarakat justru telah jadi alat eksploitasi (pemanfaatan ujntuk kepentingan pribadi,pen). Mereka yang kaya enggan berbagi dengan yang miskin. Sementara yang miskin ingin memiliki uang untuk kebutuhan sehari-hari tanpa mau bekerja keraqs. Maka terciptalah Dualisme Prinsip Hidup.

Di satu sisi, ada kalangan yang memiliki intelektualitas dan emosi yang tinggi. Mereka inilah yang tergolong kaum terdidik dan mapan secara ekonomi.

Hanya kekurangan mereka adalah level intelektulitas mereka tak dibarengi dengan level sosialitas. Mereka cenderung individualis. Akibatnya, kehidupan di dunia ini mereka ukur dengan prinsip bisnis. Mereka yang memiliki kesamaan perasaan apabila ada keuntungan ekonomis yang bisa didapatkan secara pantas.

Di sisi lain, ada kalangan yang minim tingkat kecerdasaan intelektualnya, namun unggul dalam hal religiusitas. Biasanya mereka termasuk sabar dalam menjalani hidup. Meski dalam keadaan susah bagaimanapun, mereka tetap sepenuhnya khusyuk kepada Sang Pencipta. Mereka juga bersikap hormat kepada siapapun yang berada di straqta yang sama apalagi yang di atasnya.

Hanya saja mereka mudah terpengaruh provokasi dari pihak yang hendak memanfaatkannya. Dengan lasan ibadah dan jaminan ekonomis, kalangan tersebit sangat mudah mengikuti dan percaya pada doktrin orang lain yang dianggap “suci” dan terdidik. Untuk memperkuat semangat mereka, maka perintah itu diatasnamakan perjuangan kaum marginal (golongan masyarakat yang merasa terpinggirkan,pen). Sungguh sangat memprihatinkan.

Oleh karena itu saya ingin memperingatkan pada diri saya sendiri khususnya dan para pembaca umumnya untuk mari kembali kepada fitrah kita sebagai manusia yang disuruh untuk mengikuti jejak panutan umat, Muhammad SAW. Karena bagaimana pun juga beliau-lah yang pantas dijadikan tauladan yang baik. Sebab beliau diutus dengan satu tujuan yakni, “menyempurnakan akhlak manusia”. Walau mustahil kita dapat menyamainya 100%, tapi apa salahnya kita terus berusaha mencoba meniru akhlk beliau yang telah banyak tertera dalam hadist.

ALLAHUMMA INNA NASALUKAL ‘AFWA WAL ‘AFIYAH WAL MU’AAFAH ADDAAIMAH FIDDIENI WADDUNYA WAL AKHIRAH. AMIEN YAA ROBBAL ALAMIIN.