bomApapun alasannya, peledakan bom bunuh diri di JW Marriot dan Ritz-Carlton lalu adalah aksi yang penuh kekejian. Bahkan menyimpang dari ajaran teologis dan humanistis. Karena kita semua percaya bahwa tak ada satu ajaran agama yang menganjurkan umatnya menghilangkan nyawa orang lain yang tak bersalah.

Bom tersebut seakan mencuri kebahagiaan bangsa Indonesia yang beru saja merayakan pesta demokrasi dengan demokratris dan damai. Bom itu bermaksud ingin merampok apa yang telah dicapai dan terus ditingkatkan oleh bengsa kita tercinta ini, yaitu: mewujudkan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Kematian, luka berat, dan ringan, yang menimpa para korban tidak hanya membuat nestapa para anggota keluarga mereka. Lebih dari itu, jelas ini semua merupakan hal yang membuat seluruh bangsa Indonesia yang mempunyai hati nurani akan terluka dan marah.

Upaya perang melawan terorisme memang tidak mudah. Bom yang mengoyak ibu kota itu menunjukkan bahwa mereka setiap saat terus mengendus dan mencari peluang saat kita lengah.

Sebelum bom di Jakarta lalu, dalam empat tahun terakhir ini negara kita relatif aman dari ancaman pengeboman karena ulah teroris. Walau begitu, mestinya hal ini tak membuat negara dan aprat keamanan merasa ‘menang’. Sebab, ini bukan masalah menang atau kalah. Semua ini adalah perang keyakinan, the war of ideas. Tentang apa yang dianggap ideal dan tidak ideal.

*Berani Hidup Bukan Untuk Mati.

Sebagai bangsa yang besar kita tak boleh menyerah. Jika mereka para teroris menggunakan senjata untuk mencapai tujuan mereka, maka kita menyebarkan nilai-nilai kebenaran dengan perdamaian.

Kita musti buktikan bahwa peledakan bom bunuh diri itu malah membuat kita semakin kuat dan bersatu. Kita katakan kepada mereka:
“JIKA KALIAN MEMILIH MATI DENGAN TANGAN YANG BERLUMURAN DARAH NYAWA ORANG-ORANG YANG TAK BERDOSA, KAMI LEBIH MEMILIH HIDUP MULIA DEMI KESEJAHTERAAN MANUSIA.

Mari kita tanamkan kepada diri kita, teman, keluarga, saudara dan anak-anak bahwa setelah kejadian ini kami semua lebih memilih berani menghadapi hidup. Yaitu, hidup mulia yang memberi manfaat kepada sesama umat manusia.

Yang perlu kita jadikan prinsip sekarang adalah, bahwa berani menghadapi hidup untuk membangun kesejahteraan keluarga khususnya dan negara pada umumnya itu jauh lebih mulia dibandingkan berani mati sengsara yang malah membuat nyawa orang lain melayang sia-sia.

Setelah peristiwa inikita mungkin akan dihadapkan pada masa depan yang lebih berat. Bayangan buruk pasti akan mulai muncul. Mulai dari wisatawan asing yang akan berfikir dua kali untuk berlibur ke Indonesia hingga para investor yang mulai berhitung untuk hengkang.

Tapi bukan berarti taka ada harapan. Yang kita b utuhkan sekarang adalah berusaha lebih keras dari sebelumnya. Dan tak lupa kita juga semakin mendekatkan diri pada-Nya, karena bagaimanapun dibalik semua ini pasti ada hikmah yang telah direncanakan oleh-Nya.Mari kita berusaha lebih keras dan meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga ketentraman dan keamanan, termasuk menjaga keselamatan anak-anak dan keluarga kita.

“We Are Not Affraid, They Only Make Us Stronger”