Sore itu, tak sengaja kutemukan selembar koran yang didalamnya berisikan tentang artikel-artikel lucu (anekdot,pen). Sejurus kemudian metaku terpaku pada anekdot yang isinya telah pernah kudengar dari gurauan teman-teman, dan mungkin anda semua pun juga pernah mendengarnya.

Dalam anekdot tersebut berceritakan tentang perlombaan dunia adu ketangkasan. Peserta pertama mengeluarkan busur panahnya dan siap membidik sasaran yang berupa apel yang diletakkan di atas kepala orang. Dari jarak 20 meter dia membidik. Dan hasilnya dia mampu membidik dengan tepat. Anak panahnya tertancap tepat di tengah-tengah apel. Penonton pun bersorak, memberi tepuk tangan untuk peserta tersebut. Dia berkata, “I’m Robbin Hood from England”.

Peserta kedua seakan tak mau kalah dengan peserta pertama langsung maju ke arena dengan sebilah pisau. Dia juga suap membidik sasaran yang juga berupa buah apel yang diletakkan di atas kepala orang. Dari jarak 30 meter dia membidik. Dan penonton pun bersorak meriah karena dia berhasil membuat apel tadi terbelah menjadi dua tanpa mengenai kepala orang tersebut. “I’m Rambo from USA”.

Peserta terakhir juga tak ingin kalah. Dengan membawa sebilah pedang, dia siap membidik apel yang juga diletakkan di atas kepala orang. Tanpa banyak bicara dia lengsung beraksi. Namun, penonton akhirnya menjrit ketakutan karna peserta yang terakhir ini tanpa sengaja berhasil memotong orang tersebut terbelah menjadi dua dan mati seketika. Dia pun berkata, “I’m sorry from Indonesia”.

Ikhwat…!!!
Memang seringkali maaf selalu dianjurkan. Namun pada suatu masalah tidak cukup hanya ucapan maaf yang dapat menjadi penyelesai masalah, karna bahkan hal itu disebabkan oleh keteledoran dan kecerobohan kita.

Tapi, tak jarang ‘memaafkan’ bisa menjadi obat mujarab bagi hati yang sedang sakit. Memang benar, segalanya butuh proses. Dan ujung-ujungnya adlah kasih sayanglah yang menjadi alasan terkuat untuk memaafkan.(Baca: Obat Itu Bernama “Memaafkan”).

Sekali lagi juga benar, bahwa sebuah permintaan maaf bisa mengobati banyak hal. Namun, agaknya kita juga harus mengingat, bahwa semua itu tak akan ada artinya, saat kita mengulangi kesalahan itu kembali. Kesalahan yang kita perbuat pada orang lain seperti kita menusukkan sebuah pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi tidak peduli beberapa kali kita minta maaf, luka itu akan tetap ada. (baca: Maaf Tidak Gampang)

Pepatah barat mengatakan; “Forgiven But Not Forgoten”.
Wallahu A’lam Bishshowab.