ajiMalam itu, tepatnya hari Selasa, 30 Juni 2009 pukul 19.00 waktu setempat lebih dari 10.000 pasang mata memenuhi stadion Siliwangi Bandung guna menyaksikan pertandingan penentu untuk memperebutkan satu tiket ke Indonesia Super League (ISL) antara PSMS Medan versus Persebaya Surabaya.

Meski tim favorit saya adalah Persipura Jayapura yang telah berhasil keluar sebagai kampiun ISL 2009 dan menjadi runer-up Copa Indonesia 2009, saya lebih cenderung mendukung Persebaya untuk memneangi pertandingan kali ini. Mungkin karena latar belakang orang tua saya yang berasal dari Jawa Timur.

Dalam tulisan kali ini, saya tidak akan mengomentari jalannya pertandingan. Melainkan ada 2 point penting yang dapat saya petik dari pertandingan tersebut.

* Nilai dari sebuah waktu.

Kawan-kawan pasti sepakat jika Saya mengatakan bahwa waktu adalah salah satu barang berharga dalam hidup manusia. Seorang pelajar akan menilai bahwa waktu setahun adalah waktu yang berharga. Bagaiman tidak, coba saja tanyakan pada mereka yang tidak lulus ujian akhir dan harus mengulang pelajarannya selama setahun. Seorang wartawan surat kabar pasti menganggap satu hari adalah waktu yang sangat berharga karena mereka harus mencapai deadline yang harus dicapai . Valentino Rossi menjadi juara di sirkuit Assen, Belanda karena catatan waktunya lebih baik trpaut sepersekian detik dari koleganya Jorge Lorenzo.

Tak terkecuali PSMS Medan. Sempat unggul di menit ke-16 lewat gol penalti Leonardo Zada, mereka harus kehilangan kemenangan yang sudah di depan mata karena penyerang Persebaya Jairon, berhasil membobol gawang mereka di menit-menit terakhir babak kedua. Pertandingan pun harus dilanjutkan dengan extra time (perpanjangan waktu,pen).

Oleh karena itu kawan! Gunakan waktu semaksimal serta seefisien mungkin. Sebab, sekejab saja kita lengah , maka kita takkan mendapatkan kembaliwaktu yang telah kita sia-siakan dan waktu itupun menghilang.

Ironis memang, melihat orang yang bermalas-malasan guna mengerjakan sesuatu yang semestinya dapat dia kerjakan. Orang bijak selalu berkata:
“Jangan tunda besok, pekerajaan yang dapat kita kerjakan hari ini”.

*Allah Maha Kuasa.

Pertandingan tadi akhirnya terpaksa diselesaikan lewat drama adu penalti, karena kedua tim tak mencetak satu gol pun pada saat extra time. Disinilah, kita lagi-lagi akan kembali tersadarkan bahwa Allah-lah yang maha mengatur segala sesuatu. menang-kalah telah ditulis oleh-Nya di Lauhul Mahfudz.

Dalam drama adu penalti, mengutip dari dawuh-nya seorang ustadz yang mengajar di pesantren saya, bahwasanya seorang penendang penalti tidak bisa disebut bodoh hanya karena dia tak mampu memasukkan bola saat menendang penalti. Begitu juga seorang kiper tak dapat dianggap pintar dikarenakan dia mampu menahan tendangan penalti lawan.

Semua itu, tergantung oleh keberuntungan yang istilah kerennya adalah ‘Dewi Fortuna’. Atau lebih tepatnya bahwa itu semua telah diatur oleh Allah SWT. Bukan ‘Dewi Fortuna’, Karena itu lebih cenderung mengarah pada kepercayaan Yunani kuno.

Dan akhirnya, Persebaya keluar menjadi juara karena ‘Dewi Fortuna’ lebih berpihak kepada mereka, atau lebih tepatnya karna mereka telah ditakdirkan oleh Allah memenangi pertandingan kali ini.


* Benang Merah.

Kita pasti takkan memungkiri, bahwa tak jarang kita dihadapkan pada perihal dimana saat itu kita telah berusaha semaksimal mungkin, namun hasilnya tak seperti yang kita harapkan. Kecewa? Pasti. Namun dibalik semua itu, Kita musti sadar akan adanya kekuatan yang Maha Dasyat yang telah mengatur segalanya sedemikian rupa.

Oleh karena itu, meski kita berusaha semaksimal apapun, walau kita telah menggunakan waktu kita seefisien mungkin, wajib hukumnya bagi kita untuk tetap menyerahkan segalanya kepada Allah Swt. Tapi, bukan berarti kita tak mempunyai peran dalam perbuatan kita. Kita tetap dianjurkan untuk berusaha. Karena Allah takkan mengubah keadaan suatu kaun, melainkan mereka sendiri yang harus berusaha.

Akhir kata: ORA ET LABORA.
Mari berusaha dan jangan lupa berdo’a.