KCB
Pasti kawan-kawan semua sudah pernah nonton paling nggak sempet dengar dari temen…
Film ini… (saya tak bisa berkomentar apa…)

Adegan paling mengesankan ketika Anna sedang berbincang dengan umminya tentang lelaki pendamping hidupnya.

Dialog paling menyentuh saat Anna dan Husna berusaha menguraikan makna cinta.

*Husna

“Cinta adalah kekuatan
yang mampu mengubah duri menjadi mawar, mengubah cuka jadi anggur, malang jadi untung,
mengubah sedih jadi riang, mengubah setan jadi nabi, iblis jadi malaikat, sakit jadi sehat,
mengubah kikir jadi dermawan, kandang jadi taman, penjara jadi istana,
mengubah amarah jadi ramah,
mengubah musibah menjadi muhibbah.
itulah cinta.
Setiap insan pasti mengalami cinta, setidaknya cinta pada orang yang telah menjaga kita seumur hidup, cinta pada orang tua, cinta pada saudara.

*Anna

“Cinta menurutku, sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar, namun ketika cinta kudatangi aku jadi malu atas keteranganku sendiri.

Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang. Namun tanpa lidah, cinta justru lebih terang sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya.

Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai pada cinta.
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya. Bagai keledai terbaring dalam lumpur.

Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan”.

Ada ungkapan Anna yang membuat saya mengerti bagaimana menolak poligami tanpa bermaksud mengharamkannya.

“Saya tidak mengharamkan pologami, melainkan saya tidak mau itu terjadi pada saya. Logikanya, ketika saya tidak menyukai lelaki yang suka makan jengkol, maka saya pun akan menolaknya selama dia masih suka memakan jengkol, sementara saya tidak mengharamkan jengkol.”

“Saya hanya ingin menjadi seperti Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW. yang seumur hidupnya suaminya, Sayidina Ali Bin abi Thalibra. hanya beristrikan beliau.”
“Saya hanya ingin sepeti Khadijah, istri Nabi SAW. yang selama hayatnya tak pernah dimadu oleh Nabi.”

Sungguh, ungkapan yang sangat bijak.