Terharap BerkahBaru-baru ini, seorang teman bertanya padaku tentang bagaimana hukum mencium tangan jika dilakukan oleh seorang santri wanita kepada kiyainya yang notabenenya kyai tersebut bukan muhrimnya. Terbilang sulit memang pertanyaan temanku ini.

Dengan kesabaran dan niat yang kuat, aku coba mencoba menyelesaikan jawaban dari pertanyaan temanku tadi.

Aku pun membuka kitab favoritku yakni FAROIDUL BAHIYYAH, kitab yang berisikan tentang kaidah kaidah ilmu fiqh. dan Alhamdulillah, aku dapat menyimpulkan jawaban dari pertanyaan itu.

Dalam kitab tersebut, aku menemukan sebuah kaidah fiqh yang berbunyi :
Idzaa ta’arrodlo al-amru wal adab, quddimal adab.
Yang artinya kurang lebih begini; Jika antara perintah dan tatakrama saling bertentangan, maka yang dikedepankan adalah tatakrama.

Kita diperintahkan agar tidak bersentuhan dengan orang yang bukan muhrimnya. Tapi karena kita dituntut agar menghormati seorang yang mempunyai derajat yang luhur karena ilmunya misalnya, Maka printah itu secara otomatis dapat kita langgar dengan berargumen bahwa kita ingin menghormatinya atau meminta berkah dengan mencium tangannya.

Dan ternyata mencium tangan menurut para ulama merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan agama. Karena perbuatan itu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada mereka. Dalam sebuah hadits dijelaskan:

Dari Zari ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud)

Atas dasar hadits ini, para ulama mensunnahkan mencium tangan guru, ulama, orang shalih serta orang-orang yang kita hormati. Kata Imam Nawawi dalam salah satu kitab karangannya menjelaskan bahwa mencium tangan orang shalih dan ulama yang utama itu disunnahkan. Sedangkan mencium tangan selain orang-orang itu hukumnya makruh. (Fatawi al-Imam an-Nawawi, Hal 79).

Ikhwat…!!!
Kalau dapat Aku simpulkan, bahwa apabila mengecup tangan itu dimaksudkan dengan tujuan yang baik, maka (perbuatan itu) menjadi baik.

Inilah hukum asal dalam masalah ini. Namun jika perbuatan itu digunakan untuk kepentingan dan tujuan yang jelek, maka termasuk perbuatan yang terhina. Sebagimana perbuatan baik yang diselewengkan untuk kepentingan yang tidak dibenarkan.