ummiSaat itu, ummi menangis. ” Ummi, mengapa Kau menangis?” Tanyaku.”Sebab Ummi seorang wanita,nak”. Aku semakin bingung, “Aku tak mengerti”. “Kamu takkan mengerti,nak!”. Ummi hanya tersenyum dan memelukku.

Kemudian Aku meghampiri Abah. “Abah, kenapa ummi menangis? Sepertinya ummi menanngis tanpa sebab”. “wanita memang menangis tanpa sebab”. Hanya itu jawab abah.

Sampai saat aku remaja, aku masih menyimpan pertanyaan itu. Hingga aku menemukan jawaban dari pertanyaan itu sendiri. Jawaban itu aku simpulkan dari keterangan “guru”ku.

Mungkin, saat awal pencipataan, ummi diberi keutamaan. الله memberi kekuatan pada bahunya agar dapat memikul beban dunia dan isinya, walaupun begitu, harus cukup lembut dan nyaman menahan kepala bayinya.

ummi juga diberi kekuatan dalam mengandung dan melahirkan bayinya, walau tak jarang Dia dicerca oleh sang anak.

ummi diberi kesabaran dalam mengurus keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tak berkeluh kesah.

ummi pun mempunyai perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai anaknya dalam kondisi dan situasi apapun.Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya. Walau tak jarang, Aku sering menyakiti hatinya.

ummi juga menjadi pembimbing Abah, dimasa-masa sulit dan menjandi pelindungnya.Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?

ummi mempunyai kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan abah, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Terakhir, ummi mempunyai air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus dipunyai ummi, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki ummi, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.

Kawan…!!!
Maka, dekatkanlah diri kita kepada Beliau selama beliau masih hidup.