و سارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والارض اعدت للمتقين

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa “, (QS. Ali Imron:133).
allah

Sering kita lebih bersandar pada amal kita dari pada berharap pada rahmat. Karena tak jarang ketika kita berbuat maksiat, seringkali kita akan mengingat-ingat amal kita ketimbang mengharap rahmat الله.
Kita tak memohon rahmat الله karena beranggapan bahwa amal yg telah kita kerjakan lebih banyak daripada dosa-dosa kita.

Atau sbaliknya, kita tak memohon rhmat الله karena menganggap الله takkan mengampuni dosa kita sebab amal kita yang sedikit. Padahal الله mengampuni hambanya bukan karna amalnya melainkan karna rahmat-Nya.

Amal bukanlah sandaran yang kuat. Amal itu terbit dari makhluq. Sedangkan makhluq adalah fana. Amal itu sendiri adalah makhluq. Bagaimana mungkin kita akan bersandar kepada makhluq? Bersandarlah kepada Allah yang Kekal. Tidak akan kecewa mereka yang bersandar dan bergantung kepada Allah.

Coba saja kita bergantung kepada orangtua Kita. Tetapi ingat, orangtua Kita akan mati. Silahkan bergantung kepada obat. Tetapi ingat, terkadang obat dapat menjadi racun. Dan banyak obat yang setelah diminum, ternyata tidak ada perubahan pada diri si penderita. Rizqi, kesembuhan, kesehatan, semua itu dari الله. Begitu pula masuknya seseorang ke surga, itu merupakan rahmat dari الله. Bukan disebabkan amal shalihnya. Tak ada manusia yang dapat menghindari ma’siat atau pun mampu berbuat tho’at, kecuali dengan rahmat Allah.

Sahabat …!!!
Jika kita mau mendapatkan rahmat berupa ampunan dari الله, sebenarnya mudah saja. Banyak ayat-ayat Alqur’an dan Hadits yang mengajarkan bagaimana cara mengharapkan ampunan dan kasih-sayang Allah. Dengan membaca Al-Qur’an, dengan shalat, dengan istighfar, dengan tasbih.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Al-Baqarah:218)

Rasulullah s.a.w bersabda: “Apa pendapat kamu sekiranya terdapat sebatang sungai di hadapan pintu rumah salah seorang dari kamu dan dia mandi di dalamnya setiap hari sebanyak lima kali. Apakah masih lagi terdapat kotoran pada badannya?” Para Sahabat menjawab: “Sudah pastinya tidak terdapat sedikit pun kotoran pada badannya.” Lalu baginda bersabda: “Begitulah perumpamaannya dengan sembahyang lima waktu. Allah menghapuskan segala kesalahan mereka.” [HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi]