Islam diturunkan sebagai misi perdamaian atau penyelamatan, bukan amunisi penyesatan.

Dalam akidah Islam hak pengimanan dan penyesatan hanya milik Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, terhenti dengan meninggalnya Nabi. Semua orang atau kelompok memiliki derajat yang sama yaitu berusaha memahami wahyu tersebut.

Derajat mereka hanya sampai pada pencarian kriteria ”salah dan benar”. Dalam menentukan ajaran agama tidak sampai pada derajat mengetahui “ Iman dan Kafir”. Wilayah “ benar dan salah” adalah lahan manusia yang menjadi bidang garapan manusiawi yang sungguh-sungguh untuk memahami. Dalam hal itu pun hakikat kebenarannya masih sampai pada tahap “Kebenaran Manusiawi” bukan kebenaran Ilahi.

Oleh karena itu ulama terdahulu (salaf) begitu selesai membahas satu persoalan lantas mengahirinya dengan pengakuan yang sangat terkenal “Wallahu ‘Alam bi Showab”, pengakuan yang jujur dan mendalam bahwa yang mengetahui hakikat kebenaran hanylah Allah.

Wilayah “Iman dan Kafir” jauh dari wilayah perdebatan “Benar dan Salah” yang tak seorang pun bisa memasukinya, meskipun membawa dalil-dalil agama sebab wilayah itu bukan lagi suara penafsiran dan pemahaman yang bisa dimasuki oleh manusia seperti derajat benar dan salah. Wilayah itu juga berupa ruang sangat pelik yang tidak bisa diketahui yaitu “ Hati manusia”.

Syariat hanya bisa menghukumi hal-hal yang tampak. Disinilah sabda Nabi menemukan konteksnya.

نَحْنُ نَحْكُمُ بِالظَّوَاهِرِ وَاللهُ يَتَوَلَّى السَّرَائِرَ

“Kita (manusia) hanya bisa menghukumi yang lahiriyah dan hanya Allah yang bisa menguasai yang batin.”

Kriteria benar dan tidaknya salat (sah atau batal) adalah cukupkanlah ilmu fikih yang membahas syarat dan rukun yang tampak sesuai dengan mazhab fikih yang di yakini. Namun tidak ada seorang pun yang tahu kriteria mazhab mana yang salatnya yang paling diterima oleh Allah.

Bisakah kita membayangkan apa yang ada dalam pikiran dan hati seseorang yang malah menyesatkan orang yang tersesat?

Munculnya aliran dan pandangan yang dituding tersesat bukan malah meramaikan pentingnya bimbingan dan ajakan, tapi justru menegaskan penyesatan, seolah-olah mereka yang paling tahu mana yang tersesat dan mana yang tidak.

Lebih dari itu kriteria penyesatan itu akan menumbuhkan tradisi yang buruk (sunnah sayyiah) dikalangan umat karena akan menutup pintu dialog dan menggiring ke arah atau ruang konflik yang penuh kekerasan.

Umat dipancing agar bereaksi keras bila terdapat sebuah kelompok atau keyakinan yang berbeda, bukan diajak untuk memahami dan mengenalinya terlebih dahulu, padahal bial ada perbedaan maka itulah rahmat yang disebutkan oleh Nabi:

إِخْتِلاَفُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ

“Perbedaan umatku adalah berkah.”

Dan bila terdapat kesalahan maka diperlukan bimbingan dan ajakan karena manusia merupakan tempat salah dan dosa.

اْلإِنْسَانُ مَحَلُّ الْخَطَاءِ وَالنِّسْيَانِ

Agama menyempurnakan sesuatu yang kurang, memperbaiki yang rusak, bukan sebaliknya, mengurangi yang kurang dan merusak yang rusak.

Dari pemikiran-pemikiran atau pemahaman seperti itulah seseorang dengan mudahnya mengkafirkan dan menyesatkan orang lain tanpa mengetahui kebenaran dan kesalahan hakiki yang ada pada dirinya sendiri. Wallahu ‘Alam bi Shawab.