Seperti banyak diberitakan, Prita Mulyasari ditahan karena dituduh melakukan pencemaran nama baik terhadap RS Omni Internasional lewat internet.Kasus ini bermula ketika Prita mengirimkan e-mail sebagai surat pembaca (lihat: Detik.com) dan kemudian dia kirimkan pula kepada teman-temannya.

Jika melihat isi e-mailnya berupa surat pembaca di sebuah media dotcom kemudian kita coba menganalisisnya metode discourse analysis (analisis wacana,pen.), tampaklah di dalam e-mail-nya itu adalah narasi dalam bentuk keluhan yang lazim dialami oleh seseorang yang mengalami kekecewaan atas pelayanan. Sifat tulisannya pun cenderung deskriptif belaka. Siapa pun akan melakukan hal sama dengan Prita jika mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan. Untuk sekadar diketahui bahwa discourse analysis (analisis wacana) adalah sebuah teknik menganalisis naskah (dalam hal ini dalam bentuk tulisan e-mail yang dibuat Prita) yang bertujuan menemukan “jalan pikiran” yang terdapat dalam naskah yang dianalisis.

Melalui proses pemaknaan bagian demi bagian dari naskah yang dianalisis dan menghubungkan antarmakna yang timbul dari setiap bagian,kita bisa menyimpulkan “jalan pikiran” yang dikandung pada sebuah naskah. Tentu saja, setiap pembuatan sebuah naskah (wacana) seperti dilakukan Prita adalah versi si pembuatnya.

Hendaknya sebuah versi wacana dipahami dari sudut pandang si pembuatnya. Jika yang bersangkutan membuat wacana itu tanpa fakta dan data, bolehlah dia disebut berbohong bahkan mencemarkan nama baik. Tetapi jika yang bersangkutan masih mengacu pada fakta dan data, tidak bisa dikatakan sepenuhnya berbohong, melainkan hanya mengungkapkan fakta dan data menurut versinya sendiri.

PANDANGAN PUBLIK

Benar, sepertinya semua opini publik seakan-akan(karena didukung oleh media massa—berada di belakang Prita. Dalam mengungkapkan informasi, Prita diasosiasikan telah melakukan komunikasi dengan prinsip etika komunitarian. Bahwasanya, apa yang dia sampaikan ditafsirkan sebagai upaya untuk kepentingan orang banyak.

Coba tengok kalimat pertamanya dalam tulisan e-mail di surat pembacanya itu: ”Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lain.Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan titel internasional karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan”.

Dalam kalimat ini jelas Prita mencoba mewakili kepentingan publik,kemaslahatan semua orang. Sebagai kebalikan dari etika komunitarian adalah etika libertarian. Etika ini dipakai oleh mereka yang mementingkan diri sendiri atau kelompoknya. Kebebasan yang ditampilkan tak lebih sebagai upaya mengamankan kepentingan sendiri dan kelompoknya saja.

Pihak RS berpeluang untuk mengedepankan wacana menurut versinya sendiri atas kasus yang menimpa Prita. Bila versi RS lebih kuat dalam data dan fakta ke-timbang versi Prita, niscaya publik mampu menilainya. Kita tunggu perkembangan selanjutnya!!!
prita