Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Aku segera menekan pedal gas kendaraan. Aku tak mau terlambat. Kebetulan jalan di depan agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hatiku berdebar berharap semoga aku bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Aku bimbang, haruskah aku berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirku sambil terus melaju.

Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintaku berhenti. Aku pun menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion aku melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu khan Bob, teman semasa SMA dulu. Hatiku agak lega.

“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”

“Hai,Lil !!!.” Tanpa senyum.

“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Umi saya sedang menunggu di rumah.”

“Oh ya?” Tampaknya Bob agak ragu.

Nah, bagus kalau begitu. “Bob, hari ini adikku ulang tahun. Ia sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”

“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu
merah di persimpangan ini.”

O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Aku harus ganti strategi.
“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.
Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

“Ayo dong Lil!!!. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.”

Dengan ketus Aku menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendela. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Aku memandangi wajah Bob dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.

Aku mengambil surat tilang yang diselipkan Bob di sela-sela kaca jendela.Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Aku membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bob.

“Halo Lil,
Tahukah kamu Lil, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia sudah meninggal tertabrak pengemudi, seorang bapak-bapak beranak 3 yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudahtiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Lil. Doakan agar permohonan kami terkabulkan.
Berhati-hatilah!!!.

‘Bob’

Aku terhenyak. Aku segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang Aku mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahanku dimaafkan.

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa
jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga,
jalanilah dengan penuh hati-hati.

Hidup hanya sekali. Jika dijalani dengan baik, untuk apa hidup dua kali???