cerminku

Di tengah-tengah musibah yang melanda di berbagai daerah negara kita, hendaknya itu semua menjadi cambuk atas kelalaian kita. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang bersifat duniawi, sehingga lalai dengan perintah Allah. Allah memperingatkan kita agar segera bertaubat.

Berapa banyak nikmat yang telah kita rasakan, betapa besar anugerah yang telah diberikan-Nya kepada kita. Sudahkah kita bersyukur? Atau sebaliknya, kita justru kufur atas nikmat tersebut dengan berbuat dosa?

وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ
“Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (QS. As Shaffat: 96)

Meski segalanya adalah kehendak Allah, dan Allah-lah yang menjadikannya. Tapi tidaklah patut menyandarakan kejelekan kepadaNya. Musibah, bencana, dan mala-petaka yang menimpa, itu akibat dari dosa-dosa kita serta kelalaian kita atas perintahNya. Yang demikian itu adalah sikap yang benar bagi seorang hamba. Seorang hamba harus mempunyai akhlak (tata krama) terhadap Tuhannya. Maka, hendaknya segala kebaikan disandarkan kepada Allah, dan segala kejelekan disandarkan pada diri kita sendiri, yakni disebabkan oleh perbuatan kita sendiri. Walaupun pada hakikatnya, semua itu dari Allah SWT semata, sebagaimana firman Allah:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
“Apa saja (nikmat) yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja (bencana) yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” (QS. An Nisa’: 79)

Kalau ada yang bertanya: “Jika semua yang dialami manusia; bahkan perbuatannya sendiri, yang menjadikan adalah Allah. Lalu untuk apa Allah memerintahkan beribadah serta menjahui laranganNya; dan lain sebagainya? Sedangkan manusia tidak mampu apa-apa, neskipun untuk dirinya sendiri. Dengan kata lain manusia tak ubahnya debu yang berterbangan ke sana kemari tertiup oleh angin.” Maka, pertanayaan seperti itu tidak bisa dibenarkan.

Maka, yang tepat untuk jawaban pertanyaan di atas ialah, bahwa Allah Maha Perkasa untuk membuat segala sesuatu sesuai kehendak-Nya. Allah yang memiliki semuanya, dan Dia berhak untuk berbuat apa saja terhadap apa yang dimilikiNya. Dan itu, bukan suatu kelaliman. Allah tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang diperbuatNya. Tapi manusialah yang akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah sebagaimana firmanNya:

لاَ يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُوْنَ

Artinya: “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya dan merekalah yang akan ditanyai.”(QS. Al Anbiya’: 23)
allaahumma tawaffanaa muslimin, wa akhyinaa muslimiin, wa alkhiqnaa bisshoolikhiin…..