Sudah 1 jam Iyan menunggu ayahnya pulang kantor. Jarum jam telah menunjukkan pukul 21.00.
Sayup2 terdengar suara mobil, Iyan bergegas menuju ruang depan. “Iyan, jam segini kok lom bobok?”. “Iyan menunggu ayah,ingin nanya dlm 1 hari ayah digaji berapa?”.”Kok nanya spt itu? emangnya da pa?”.
“nggak kok, Iyan cuman ingin tahu aja!”.

Smbil melepas dasinya si ayah menjawab,”kalo dlm sehari ayah bekerja 10 jam dan digaji 200 ribu, berapa gaji ayah selama 1 jam,coba?”. Iyan lalu bergegas kekamar mengambil secarik krtas dan pensil. “20 rb!!!” jawabnya. “nah, kan Iyan dah tahu, dah bobok sana!!!”.

“Ayah!”. “Apalagi,sih!!!”. Dengan sedikit mmbntak, ayahnya menyuruhnya tuk cepat bobok. “Iyan boleh minjam uang 5 rb?. ” aduh Iyan!!! kamu mntanya kok aneh2 sih, dah malm nih!!! sudah, sana!!! cepat bobok!!! ayah tuh capek, mau istirahat!!!”.” tapi ,yah!”. “ayah bilang tidur!!!” Dengan isak tangis Iyan berlari menuju kmrnya.

Dikamar mandi ayah Iyan merenungi sikapnya yang terlalu kasar pd Iyan. Selepas mandi ayah Iyan menghampiri anaknya yang menangis diatas kasur dngan uang 5 rb di tangannya.

“Iyan! ini kan udah malem! besok aja ayh belikan mainannya!!!!ya!!!”

Dengan suara serak Iyan menjawab”Iyan ingin minta uang,Iyan mo minjam. nanti aku kmbalikan kalo udah nabung seminggu”.

“iya,ya. tapi buat apa?”

“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah.

Aku buka tabunganku, ada Rp 5.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 20.000,-, maka setengah jam harus Rp 10.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Iyan polos.

maaf
Ayahnya terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.