Ummi…
Pendengar terbaik yang aku kenal. Selalu setia mendengar keluh-kesahku. Acapkali turut sedih mendengar cerita senduku. Tak jarang dia tertawa geli saat kuutarakan joke-joke lucu.

Ummi…
Kaulah ruh dan hidupku. Kau ‘kan selalu ada,disaat penat dan luangku.

Ehmmm,entah apa jadinya rumah kita tanpamu. Saat pagi, fajar ‘pun merasa malu,karena kau berani membangunkannya. Tak lupa kau siapkan sarapan pagi bagi kami,putra-putrimu sebelum kami berangkat sekolah. Seprti biasa ketika kami pulang sekolah, Kau masih saja sik dengan oekerjaan rumah-mu. “Ulil!!!Faiz!!!cepet tidur siang jangan lupa sholat dulu!!!”ujarmu ketika kami baru saja menyantap makan siang. “umi, sini aku bantu!”. “eh, jangan!!! udah tidur siang aja sana, nanti les-nya ngantuk lho!!!”. Selalu jawaban spt itu yang kami terima, ketika kami ingin memmbantumu.

Meski sepanjang siang kau tlah bekerja keras, tak lupa kau selalu mengecek buku2 pelajaran kami, ada PR atau nggak?. Saat menjelang tidur ‘pun kau tak lalai mengantar tidur kami dengan kisah tauladan rasul.

Aku rasa Allah telah memberi tangan yang terampil bagi ummi. Walau sibuk dengan pekerjaannya, ummi tetap bisa meluangkan waktu di depan mesin jahit ‘tuk menyelesaikan baju rancangannya sendiri. Sering pula kami mendapat surprise berupa baju atau celana hasil dari tangan terampilnya.

Ummi tlah menghabiskan entah berapa bagian hidupnya ‘tuk mnjadi telaga ternyaman dalam hidup kami. Disanalah kami menumpahkan segenap suka duka kami. Ajaibnya, setelah kami jauh darinya kami tak bisa mencurahkan isi hati kami seperti saat kami masih berada di rumah. Tapi apa ummi merasakannya? Sepertinya ummi merasakan segala isi hati kami. Begitukah seorang ibu? Kami sempat berfikir tak usahlah lagi menceritakan segala hal padanya. Mungkin akan hanya menambah bebannya. Kami bersepakat tuk tidak lagi berceloteh memanja padanya,toh kami sekarang sudah dewasa dan tak pantas lagi memberatkannya dengan celotehan kami.

Ummi tak hanya pendengar setia bagi celoteh anaknya, namun ia juga telah memberi dan mengajarkan kami banyak hal melalui kedua ‘tangan ajaib’nya. Ia mengajarkan kami untuk selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bagi orang lain, melalui mimik wajah serta kalimat-kalimatnya menanggapi setiap perkataan yang kami ucapkan. Kami belajar, bahwa setiap perhatian kecil yang diberikan kepada seorang anak, maka yang tersimpan padanya adalah sebuah kasih sayang besar dan keyakinan bahwa ia disayangi. Kami belajar, bahwa kedua tangan anugerah Allah ini, adalah modal bagi kerja keras yang harus dilakukan demi orang-orang tercinta, keluarga. Entah apapun yang dapat diperbuat.

Kami tak heran, betapa banyak teman dan relasi bisnis yang ummi miliki sekarang. Banyak pula kerabat dekat yang betah berlama-lama mengobrol dengan ummi. Tak sedikit orang yang mengagumi ‘bakat’ yang mereka katakan terhadap keterampilan yang ummi miliki. Tapi saya memahaminya sebagai cara umi bersenang-senang dengan ‘tuntutan’ padanya untuk membantu ayah membiayai keluarga. Seringkali lelah membayang dalam raut wajah ummi, namun tak jarang saya mendapatinya berbinar kala ‘tangan ajaib’nya telah berhasil ‘menciptakan’ karya baru.

Sekarang ini, adalah giliran kami untuk menjadi ‘telinga terbaik’ bagi ummi sampai hari tuanya nanti, dan mempersembahkan hasil yang dapat saya raih dari kedua belah tangan ini untuk membahagiakannya.

ALLAHUMMA IGHFIR LANAA DZUNUUBANAA WA LIWAALIDAINAA WARHAM HUMAA KAMAA ROBAYAANAA SIGHOROO….

AMIEN…